Sunday, 16 October 2016

[Review] Meneladani Sikap Rasulullah SAW yang Jarang Diceritakan


Judul               : Rasulullah SAW The Untold Story
Penulis             : Ali Abdullah
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 182 hlm
ISBN               : 978-602-02-5885-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara


Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad saw ada uswatun khasanah—suri tauladan yang baik bagi seluruh umat di dunia.  Namun begitu Rasulullah saw tetaplah manusia biasa. Beliau menikah, makan, minum,  mandi. Merasakan sedih atau bahagia sebagaimana manusia pada umumnya. Pernah merasakan sakit juga melakukan kekeliruan.   Hanya saja tentu saja ketika Rasulullah melakukan kesalahan cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri.  Beliau adalah seorang manusia biasa, tetapi tidak seperti manusia biasa. Beliau istimewa dan merupakan orang terpilih.

Berangkat dari itu, penulis mencoba mengajak pembaca untuk mengambil hikmah—meneladi sikap Rasulullah saw dari kisah-kisah yang jarang diperbincangkan dalam kajian serius. Terdiri dari 30 kisah inspiratif yang menunjukkan bahwa Rasulullah adalah manusia biasa namun tetap  tidak menjatuhkan wibawanya dan tetap memiliki akhlakul kharimah.

Sebagai manusia biasa Rasulullah saw pernah keliru. Ketika itu beliau mendapati masyarakat Madinah melakukan penyerbukan kurma. Rasulullah saw menduga jika hal itu tidak dilakukan  hasilnya akan baik.  Pendapat itu pun diikuti masyarakat.  Namun ketika waktu paneh, hasil kurmanya malah berkurang. Rasululllah pun yang menyadari kekeliruan beliau. Menanggapi itu, Rasulullah kemudian menyatakan bahwa beliau hanya menduga. Praduganya itu tidak ada kaitannya dengan firman Allah.  Lalu beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui tentang perkara dunia kalian.” (hal. 3)

Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah, agar kita membedakan mana yang menjadi urusan agama (akhirat) dan mana yang urusan dunia.  Jika dalam urusan agama Rasulullah adalah ahlinya namun dalam urusan duniawi (seperti penyerbutkan kurma) Rasullullah tidak mutlak mengetahui. Namun dari kekeliruan tersebut, Rasulullah lalu mengoreksi diri dan menasihati para sahabat dengan nasihat yang baik—yaitu untuk menyerahkan perkara pada ahlinya.

Dalam kisah lain diceritakan. Pernah pada suatu kesempatan Rasulullah tengah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy yakin ‘Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdil Mutahlib dengan maksud menjelaskan hakikat Islam. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki buta—Abdullah bin Ummi Maktum—untuk meminta Rasulullah untuk mengajarkan beberapa bacaan ayat Al-Quran. Rasulullah pun merasa terganggu dengan memperlihatkan wajah yang masam.

Lalu turunlah surat Abasa ayat 1-10 yang mengingatkan Rasulullah untuk mengontorol akhlak beliau agar senantiasa menjadi sosok teladan bagi umat manusia di seluruh dunia. (hal. 9)  Dalam kisah ini kita diajak belajar agar tidak membeda-bedakan orang dalam status sosial yang dimiliki.

Rasulullah pun pernah lupa. Diceritakan Rasulullah tengah melakukan shalat Zuhur yang harus dikerjakan 4 rakaat. Namun dalam keadan lupa Nabi sudah mengakhiri shalat dengan dua rakaat salam. Melihat kesalahan itu, seorang sahabat mengingatkan Rasullullah. Lalu Nabi pun melanjutkan dua rakaat lagi dan sebelum salah beliau menambah sujud sahwi. (hal. 20) Dari kisah ini kita dapat meneladani sikap Rasulullah yang mau mendengar pendapat orang lain—beliau tetap rendah hati.  Kejadian tersebut juga memberi keteladanan dalam bidang fikih Islam.

Selain lupa, Rasulullah sebagai manusia biasa juga pernah shalat subuh kesiangan. Kala itu Rasulullah dan para sahabat melakukan perjalanan sampai di sepertiga malam.  Sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah agar beristirahat dan tidur sebentar.  Namun Rasulullah menolak karena takut kebablasan sehingga melewatkan waktu Subuh.  Lalu Bilal pun berjanji akan membangunkan Nabi, karena dia berencana tidak akan tidur sehingga Nabi setuju. Tapi siapa sangak Bilal tertidur dan Rasulullah terbangun ketika garis matahari telah di ujung timur.  Rasulullah pun segera mengambil air wudhu dan shalat (hal. 33)

Inilah nanti yang menjadi rujukan ilmu fikih, bahwa jika selama tidur itu tidak sengaja, maka keterlambatan itu diampuni. Namun jika sejak wal sudah berencana untuk terlambat shalat maka itu berdosa.

Selain kisah-kisah ini masih banyak lagi kisah lain yang menunjukkan sisi manusiawinya Rasulullah namun tetap bisa diambil pelajaran untuk terus memperbaiki diri. Sebuah buku yang inspiratif dan memberikan banyak pembelajaran. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, membuat buku ini asyik untuk dibaca. Penulis menyajikannya dengan tutur bahasa lembut dan tidak terkesan menggurui.

Srobyong, 17 Agustus 2016 

Dimuat di Koran Medan Bisnis, Minggu 16 Oktober 2016





[Review] Mengenal Fakta Unik Binatang Melalui Dongeng


Judul               : Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang
Penulis             : Shabrina WS.
Penyunting      : Tin Zulaeha, Sulistyo Wibowo
Ilustator           : Anggi Rois
Penerbit           : Visi Mandiri
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Halaman          : 112 hlm
ISBN               : 978-602-317-276-4

Salah satu cara agar menambah pengatahuan anak  adalah dengan membaca. Karena hal itu, sejak dini sangat baik bagi anak untuk dikenalkan dengan bacaan yang mendidik. Namun begitu tentu saja dalam memilih bacaan orangtua menyesuaikan dengan usia anak.  Dari pengamatan yang ada, anak lebih suka membaca buku dengan adanya unsur gambar ilustrasi cantik sebagai dorongan untuk mau membaca. 

Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang karya Shabrina WS, bisa dijadikan salah satu pilihan agar dibaca anak. Karena selain menawarkan ilustrsi yang cantik,  anak bisa belajar tentang fakta unik binatang juga membentuk kepribadian yang baik dari kisah-kisah dongeng yang ditawarkan. Terdiri empat belas dongeng yang sarat makna, sangat direkomendasikan untuk dibaca.

Misalnya dongeng berjudul ‘Ran, Tikus Pengerat’  mengajarkan anak untuk bekerja keras dalam  meraih cita-cita, jangan menjadi orang pemalas. Juga mengenalkan fakta unik tentang Tikus. Di mana tikus adalah binatang pengerat. Dengan mengerat, gigi mereka tidak akan rusak, justru lebih kuat dan rapi. Gigi depan tikus tumbuh sekitar 3,5-4,5 inci per tahun.  Hal ini menyebabkan tikus harus menggerogoti benda-benda di sekitarnya agar gigi depannya  terkikis. Bila tidak, gigi tikus akan menembus dan melukai bibir dan mulutnya. (hal. 20)

Atau dongeng berjudul ‘Jagad Si Flying Squad’ mengajarkan anak agar menyayangi binatang. Bahwa gajah itu bisa bekerja sama dengan manusia. Gajah tidak akan mengganggu jika wilayahnya tidak diganggu. Dan fakta uniknya adalah bayi gajah yang baru lahir beratnya sekitar 100 kilogram. Kalau gajah dewasa beratnya bisa mencapai 4-5 ton. Satu gigi gajah dewasa beratnya sekitar 4 kilogram. Kadang gajah menyeprotkan debu ke badannya untuk mengusir serangga. (hal. 42)

Tidak kalah menarik adalah dongeng berjudul ‘Cruin Si Katak Merah’ yang mengajarkan anak untuk tidak mengganggu dan menyakiti hewan-hewan di sekitar kita. Fakta uniknya adalah Katak adalah hewan pemangsa hama. Di Indonesia ada beberapa spesies katak. Katak merah atau Leptophryne cruentata adalah salah satu spesies katak di Indonesia yang terancam punah. (hal. 49)

Lalu dongeng ‘Pergi ke Seberang Sungai’ yang mengajak anak untuk saling membantu dalam kebaikan, mengucapkan terima kasih pada orang lain sehabis dibantu.  Dalam kisah ini penulis menjukkan fakta unik tentang Kuda nil. Binatang itu berendam dalam air hingga 14 jam. Kuda nil juga suka berendam di lumpur, menyusui anaknya hingga 18 bulan. Makanannya adalah rumput dan tumbuhan lain. (hal. 87)

Selain empat kisah yang sudah dipaparkan masih banyak lagi dongeng menarik lainnya yang inspiratif.  Dilengkapi dengan animal paper toys yang bisa dibuat maninan anak sehingga bisa mengasah motoriknya, menambah keunggulan buku ini.  Diceritakan dengan gaya bahasa khas anak mudah dipahami. Beberapa kesalahan kepenulisan tidak mengurangi kenikmatan membaca.


Srobyong, 23 Agustus 2016 

Wednesday, 12 October 2016

[Resensi] Hijab: Antara Fashion dan Keyakinan


Judul               : My Hijab
Penulis             : Ifa Avianty
Penerbit           : Pastel Books, Penerbit Mizan
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : 164 hlm
ISBN               : 978-602-0851-42-3
Peresensi           : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Memakai hijab adalah sekian dari banyak perintah Allah kepada Muslimah. Keputusan untuk mengenakan (dan juga melepaskannya) adalah  pilihan. Hijab itu bukan sekadar pemanis belaka atau untuk mengikuti fashion yang ada. Namun sebuah usaha untuk menutup aurat menjalankan syariat agama. Mantapkan niat dan tujuan dalam berhijab agar tidak ada kecewa dalam pilihan yang kita buat. (hal. 6)

Dulu sekitar tahun 80-90-an, hijab lebih dikenal dengan sebutan jilbab. Kala itu belum banyak Muslimah Indonesia yang mengenakan hijab. Jika pun ada para pemakai hijab itu berasal dari kalangan anak pesantren.  Untuk anak di sekolah umum bisa dihitung jari. Banyak masyarakat yang memandang bahwa memakai jilbab itu aneh, apalagi jika itu hijab yang panjang.  Bahkan pada tahun 1991 ketika Surat Keputusan jilbab sudah resmi diberikan, masih banyak intimidasi terhadap akhwat yang berjilbab.  (hal. 30-31)

Masyarakat belum bisa menerima kehadiran Muslimah berhijab di ruang publik. Ada anggapan bahawa ketika berhijab akan membuat jodoh sulit datang, susah mendapat pekerjaan dan dianggap sebagai teroris. Miris sekali mengingat Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk pemeluk agama Islam  paling banyak di dunia.  

Padahal sudah dijelaskan dalam dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya—ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Buku ini merupakan kisah nyata penulis dalam memperjuangkan pilihannya memakai hijab.  Dia menyampaikan bagaimana perjuangan para muslimah yang dulu ingin menunaikan kewajiban Allah yang penuh liku. Berbeda dengan sekarang, hijab sudah mulai diterima masyarakat luas. Bahkan hijab kini malah sudah menjadi fashion tersendiri yang tidak kalah menarik dengan fashion lainnya.

Hal ini bisa dilihat dari kemunculan berbagai jenis fashion hijab. Seperti Jilbab Jhoda Akbar—yang diadaptasi dari salah satu film India yang laris di Indonesia. Ada pula Jilbab  Hana—diambil dari salah satu film di Indonesia. Contoh lagi Jilbab Wolfis, Rawis, paris dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena ini, penulis selain senang karena hijab sudah diterima, namun juga mulai resah. Karena melihat kenyataan hijab lebih pada digunakan untuk fashion saja, belum dipilih dari hati.  Padahal seyogyanya, ketika seorang Muslimah sudah memutuskan berhijab, ada baiknya juga mulai memperbaiki diri. Dimulai dari cara menjaga bicara, menjaga pandangan mata, menjaga agar selalu berperilaku baik dan sopan dan menjaga jilbab itu sendiri.  Memantapkan niat dan tujuan dalam berhijab.

Penulis juga menghimbau bagi para Muslimah yang berhijab, jangan khawatir untuk masalah jodoh atau karir. Jodoh adalah rahasia Allah, yang terpenting adalah terus memperbaiki diri dan tidak lupa berdoa pada Allah. Dan masalah karir, sekarang ini sudah terbukti meski berhijab kita tetap bisa berprestasi dalam membuka bisnis atau bekerja kantoran. Sebuah buku yang sangat inspiratif dan recomended untuk dibaca bagi perempuan. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang santai dan menyenangkan.


Srobyong, 7 September 2016

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 9 Oktober 2016


Tuesday, 11 October 2016

[Cerpen] Kisah Perempuan di Halte Bus

Dimuat di Kaltim Post, Minggu 9 Oktober 2016
Kazuhana El Ratna Mida*)

Aku mengernyitkan dahi—antara kaget dan tidak percaya.  Aku menatap  sekali lagi dengan lebih cermat bahwa apa yang aku lihat sekarang benar-benar kenyataan. Dan begitulah. Aku yakin itu kamu. Salah satu teman di Unmul  dulu. Ah, betapa aku sangat merindukanmu. Entah kenapa kala itu, tiba-tiba kamu tak bisa dihubungi. Kamu bagai hilang di telan bumi. Dan tahukah kau? Betapa kini aku bahagia ketika akhirnya aku bisa melihatmu.  Gegas aku mendekatimu. Duduk di sampingmu dengan semringah.  Namun beberapa saat kemudian ada sakit yang langsung menusuk ulu hatiku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

~*~


Saturday, 8 October 2016

[Resensi] Petualangan, Perjuangan dan Persahabatan

Judul               : Matahari 
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbit Pertama : Juli, 2016
Cetakan           : Kedua, Agustus 2016
Halaman          : 400 hlm
ISBN               : 978-602-03-3211-6

Hidup adalah petulangan. Semua orang memiliki petualangan masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik. (hal. 362)

Novel Matahari masih berkutat dengan kisah petualangan tiga sahabat—Raib, Ali dan Seli. Pada  buku sebelumnya—Bumi dan Bulan, Raib diceritakan memiliki kekuatan Klan Bulan. Raib bisa menghilang. Bahkan dijelaskan bahwa Raib masih keturunan putri di Klan Bulan. Sedang Seli adalah anak yang memiliki darah Klan Matahari. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali, sebagai makhluk paling rendah—Klan Bumi, bisa berubah menjadi beruang raksasa.
Pada seri sebelumnya, Raib, Ali dan Seli sudah berpetualang ke Klan Bulan[1] dan Klan Matahari.[2] Maka pada seri ini, mereka ingin melanjutkan petualangan ke Klan Bintang. Sebuah Klan  yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya dengan pasti. Bahkan ada yang beranggapan Klan Bintang hanyalah sebuah mitos dan tidak pernah ada.

Ali berusaha membujuk Raib agar mau membuka portal menuju Klan Bintang melalui buku kehidupan yang dimiliki.

“Kita bisa ke sana, Ra! Bayangkan! Kita bisa ke klan paling jauh, bagian dari dunia paralel misterius.  Ayolah, Ra, sedikit sekali yang pernah pergi ke Klan Bintang. Bahkan Av tidak tahu-menahu di mana lokasi klan tersebut. Buku-buku di perpustakaannya juga tidak pernah menulis tentang klan yang seolah hilang itu.” (hal. 33)

Namun dengan keras pula, Raib menolak ajakan Ali yang menurutnya gila. Mereka tidak tahu bahaya apa yang akan menunggu mereka di Klan Bintang. Apalagi Av melarang Raib menggunakan buku matematika itu untuk membuka portal apa pun.

Pada awalnya Ali tidak bisa berkutik dengan penolakan itu. Tapi beberapa bulan kemudian, Ali yang jenius itu, bermodal hadiah dari Av—sebuah soft copy seluruh  buku di perpustkaan Klan Bulan, telah berhasil mengira-ngira di mana letak Klan Bintang berada. Ali akhirnya menemukan satu buku yang pernah menyinggung tentang lorong-lorong, dua ribu tahun silam, saat pertempuraan si Tanpa Mahkota dengan saudara tirinya.
Ali berasumsi bahwa Klan Bintang itu bukan berada  di atas awan. Tapi sebaliknya, klan itu justru berada di bawah—di perut bumi. (hal. 69)   Seli antara percaya tidak percaya. Lagi pula di sana sudah pasti ada magma yang sangat panas.  Tapi lagi-lagi berhasil menjelaskan kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan oleh Raib dan Seli.

“Itu tidak masalah bagi teknologi Klan Bintang yang memang paling maju dari klan lain. Lagipula, jika mereka mengeduk kedalaman tiga ribu kilometer misalnya. Itu tetap masih jauh dengan inti bumi, masih tiga ribu kilometer lagi. Menurut perhitunganku, penduduk Klan Bintang awalnya pernah tinggal di permukaan, mungkin pendudukanya campuran dari tiga klan sekaligus. Kemudian entah dengan alasan apa, mereka pindah ke dalam sana, membentuk peradaban baru. Mereka membuat lubang menuju perut bumi.” (hal. 70-71)

Selain menemukan jalan menuju ke Klan Bintang, ternyata Ali juga berhasil membuat sebuah kapsul yang diberi nama ILY[3] yang memiki kekuatan gabungan antara kekuatan Klan Bulan dan  Klan Matahari.  Ada alasan tersendiri kenapa Ali menamakan kapsul itu dengan nama sahabat barunya itu.

Pada akhirnya Raib dan Seli  setuju dengan ajakan Ali,  untuk berpetualang ke Klan Bintang. Mereka berangkat setelah ujian semester akhir—tepat pada masa liburan.  Pada awal perjalanan, baik, Raib, Seli dan Ali nampak menikmati petualangan baru yang mengasyikkan itu.  Mereka melewati pengunungan berselimut kabut, melintasi sungai besar di dataran tinggi lalu melewati lembah perkebunan luas dengan beberapa perkampungan permai  di tengah-tengahnya. (hal. 111)

Namun tentu saja tidak ada yang namanya perjalanan mulus. Di tengah perjalanan, saat mereka berusaha menghancurkan sebuah lorong, ular besar menghadang mereka. Ular itu sangat gesit dalam berkelit. Membuat Seli dan Raib cukup kelelahan.  Tak hanya ular, mereka juga harus menghadapi  kelelawar yang besarnya hampir menyerupai  seekor sapi. Mereka dalam keadan terdesak. (hal. 157)
Beruntung, mereka akhirnya bisa sampai di tempat yang dituju—Klan Bintang. Di sana mereka disambut ramah oleh Faar—salah satu penduduk Klan Bintang yang masih keturunan Klan Bulan.  Tapi ternyata tidak dengan Dewan Kota Zaramaraz—dewan tertinggi di Klan Bintang. Mereka memiliki pendapat berbeda dengan kedatangan tiga sahabat itu. Mereka menganggap Raib, Seli dan Ali yang memiliki kekuatan adalah orang yang berbahaya dan harus diringkus—mereka menjadi buronan. (hal. 209)  Lalu bagaimana petualangan Raib, Seli dan Ali di sana? Mungkinkah akan  ada bantuan dari Av dan Miss Selena?

Selama ini Tere Liye  dikenal sebagai penulis yang  produktif  dalam menghasilkan karya.  Bisa dibilang, setiap tahun  penulis ini selalu mengeluarkan karya baru. Dan  hampir semua bukunya selalu masuk jajaran buku best seller. Dan pada tahun ini pun Tere Liye  hadir menyapa penggemarnya dengan dua buku terbaru yang sama-sama diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama. Hujan  yang terbit 28 Januari 2016.  Dan berselang beberapa bulan, Tere Liye kembali hadir dengan novel  Matahari—seri ketiga dari serial ‘Bumi’ pada 25 Juli 2016.  Pantaslah jika kemudian,  Tere Liye mendapat penghargaan sebagai Writer of The Year 2016 pada  acara Indonesia International Book Fair (IIBF) oleh IKAPI—Ikatan Penerbit Indonesia.

Berbeda dari buku-buku sebelumnya, kali ini Tere Liye mengambil genre science fiction dengan sentuhan fantasi juga. Sebuah genre yang bisa dibilang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada genre yang lain.  Karena sudah pasti penulis harus melakukan riset yang mendalam dalam berbagai hal. Tapi pada kenyataannya Bumi disambut hangat di pasar Indonesia. Karya-karyanya itu memberi warna pada literasi di Indonesia dan menunjukkan kepiawaian penulis dalam menulis berbagai genre.

Kelebihan pada novel ini adalah kisah dikemas dengan gaya bahasa santai dan renyah. Penokohan di garap dengan baik dan kuat. Sehingga ketika membaca novel ini, pembaca seolah bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh tersebut. Seperti Ali yang sangat jenius dan  Raib yang judes dan selalu tidak percaya dengan Ali.  Juga kekonyolan Seli yang sangat menggemari drama Korea. 

Selain itu adalah tentang setting juga digarap dengan sangat teliti, hingga tidak terkesan tempelan saja. Setting yang baik akan membuat pembaca seperti berada di lokasi kejadian. Dan saya merasakan itu dalam setiap perjalanan yang dilakukan tiga sahabat itu. Lalu percakapan antara tokoh yang semakin menghidupkan kisah petualangan Raib, Ali dan Seli. Ditambah memakai alur maju mundur yang juga memiliki kekuatan tersendiri untuk memancing rasa penasaran pembaca untuk menyelesaikan membaca novel ini.  Pemilihan pov satu dari tokoh Raib juga turut membantu keseruan cerita.

Meski pada awalnya, saya pikir pov akan berganti pada setiap seri. Yaitu pov Raib pada novel Bumi, pov Seli di novel Bulan dan pov Ali di novel Matahari. Tapi ternyata saya salah. Penulis tetap konsisten memakai pov satu dari tokoh Raib  pada setiap novel. Dan ini menarik.

Membaca buku ini seperti diajak berpetualangan ke dunia paralel. Mengasyikkan dan mendebarkan. Kita juga diajak memaknai arti persahabatan.  Di mana sahabat itu harus  saling memahami dan membantu dalam segala situasi.  Lalu mengajarkan akan perlunya berjuang dalam segala situasi. 

Saya pikir, adanya novel ini mengokohkan Tere Liye sebagai penulis multilatenta dengan berbagai genre yang selama ini digarapnya.  

Dan kelemahannya saya rasa berada pada  masalah plot. Di mana plot sudah bisa dibaca sejak awal, karena memiliki pola yang mirip dengan seri sebelumnya.  Serta masih ditemukan beberapa kesalahan kepenulisan di sini. Beberapa kesalahan tulis yang saya temukan.

*Aku tersentum tpis Aku tersenyum tipis. (hal. 79)
*Anak itu pastil genius sekali = Anak itu pasti genius sekali. (hal. 105)
*Tapi sudah menjad tugasku = Tapi sudah menjadi tugasku. (hal. 239)
*Seandinya pun gagal = Seandainya pun gagal. (hal. 363)
*Getaran itu melewati tubuku = Getaran itu melewati tubuhku. (hal. 367) 

Satu hal lagi bagi saya yang merasa kurang seru sejak membaca seri ini dari awal adalah tentang bahasa dari Klan Bulan, Klan Matahari dan Klan Bintang. Alangkah lebih baik jika penulis menjelaskan lebih detail akan bahasa itu dan tidak terasa memakai bahasa Indonesia.  Sebenarnya pada halaman 170 pada novel ini, ada sedikit disinggung tentang bahasa Klan Bulan yang patah-patah diucapkan Faar ketika menyapa Raib. Namun bahasa itu masih tetap terlihat seperti bahasa Indonesia.  Mungkin jika di seri selanjutnya soal bahasa khusus setiap Klan bisa dibuat biar lebih hidup.  Sebagaimana dalam Lord of The Ring—ada bahasa khusus elf. Misalnya saja.

Namun begitu, secara keseluruhan  novel ini  keren dan tetap asyik buat dinikmati.  Memiliki sisi kejutan di akhir cerita dan itu memberi kepuasan tersendiri setelah membaca. Bagi yang suka genre science fiction, fantasi,  novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Apalagi ditambah bumbu persahabatan dan serta tambahan ilmu pengetahuan alam lewat si jenius Ali.  Di antaranya :
“Lapisan-lapisan bumi secara sederhana dibagi menjadi tiga. Paling atas disebut dengan lithosphere atau crust, dalamnya 100 kilometer. Lapisan kedua disebut mantle. Tebalnya hingga 2.900 kilometer.  Mantle adalah bagian terpenting yang menentukan masa depan permukan bumi. Lapisan ketiga atau terakhir disebut inti bumi, yang dibagi menjadi dua, outer core dan inner core.” (hal. 124-125)

“Kebanyakan ular merasakan getaran udara melalui organ yang disebut membran typhani. Ular akan mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan menggunakan lidahnya yang bercabang. Itulah sebabnya mengapa ular sering menjulurkan lidah. Sebab lidah tersebut digunakan untuk menghimpun informasi melalui partikel udara.” (hal.142)

“Ubur-ubur abadi tidak pernah mati. Ditemukan di laut Mediterana dan perairan Jepang, ubur-ubur ini bisa bertansformasi, mengubah sel-selnya dari usia dewasa kembali menjadi bayi.” (hal. 185)

Tidak ketinggalan pada novel ini, terdapat  quote inspiratif yang bisa dipetik pelajaran. Misalnya. “Setiap klan memiliki keistimewaan masing-masing.” (hal. 194)  seolah mengajarkan  agar setiap orang itu saling menghargai antara klan yang ada.

Lalu “Selalu ada jalan keluar sepanjang kita terus berpikir positif.” (hal. 338) dari quote ini kita bisa belajar  agar selalu berpikir positif,  selalu semangat dalam berjuang tidak mudah menyerah.

~*~

Hasil ini tentu saja sangat mengejutkan, bagi saya. Karena  saya sadar sekali dalam lomba ini sudah pasti akan banyak saingan. Hai ini Tere Liye! Ini yang mengadakan Gramedia! Tapi pada akhirnya  tetap nekat ikutan. Dan omo ... ternyata Allah punya rencana indah buat saya.  





[1] Bisa dibaca di buku “Bumi.”
[2] Bisa dibaca di buku “Bulan.”
[3] Terinspirasi dari nama sahabat ketika berpetualang di Klan Matahari. Bisa dibaca di buku “Bulan”