Saturday, 3 January 2015

Coretan Jejak 2014


Siapa sangka aku terdampar di sini--di dunia literasi. Masih aku ingat jelas ketidak sengajaan berteman dengan seseorang yang sangat menginspirasi. kulihat banyak postingan lomba event kepenulisan di diding FB.

Aku memerhatikan, membaca dengan seksama syarat yang diajukan. Jiwa menulis yang sudah lama tidur tiba-tiba terbangun, aku tergerak untuk mencoba, mulai meng-add pertemanan dan ikut bergabung dalam grup penerbitan. Oke klik, aku mulai. Di penghujung bulan Maret tepat aku bergabung.

Jujur, aku sudah lama fakum tak lagi menggoreskan pena sejak bekerja dan sibuk menggapai asa. Menapaki bangku kuliah dengan menjadi kuli di mana-mana. Aku tak lagi punya waktu seperti sekolah dulu. Jadi lambat laun hobi itu aku matikan, tersemat dalam kerinduan.

Kadang aku rindu, tapi lelah yang menggerogoti kadang lebih dominan hingga aku memilih melupakan. Lagipula, saat itu belum ada wadah dan fasilitas untukku menuangkan. Ya, masih coretan dalam kertas yang aku kumpulkan hingga sekarang.

Namun, pertemuanku dengan event yang ada di FB Maret lalu, membuatku mencoba kesempatan itu. Aku pun ikut. Saat itu sudah tak ada masalah akan fasilitas, alhamdulillah kerja kerasku selama ini berbuah manis, sambil kerja dan kuliah, pun akhirnya aku bisa membeli laptop untuk mengerjakan tugas. Apalagi aku sudah hampir semester akhir yang membuat skripsi.

disela pembuatan skripsi itulah aku mencoba menapaki dunia literasi lagi. Tapi, aku masih coba-coba dan tak begitu serius, dan hasilnya aku gagal tak mendapat apa-apa.

aku pun rehat sejenak kembali berkutat dengan skripsi yang kutargetkaan selesai bulan Mei atau Juni, agar bisa wisuda tahun ini (tahun 2014).

Kututup Fb agar tak menganggu konsentrasi, takutlah tergiur akan event-event yang belum bisa aku patahkan.

Bulan pun berlalu, di akhir Mei, menginjak bulan Juni kalau nggak salah, aku ikut event lagi. Ya, alhamdulillah kala itu Skripsi sudah aku beresi, sudah acc tinggal menunggu rangkaian tes yang aku ikuti.

Ya, hitung-hitung sambil mengisi waktu senggangku. Karena tak ada tugas paling tinggal Uas terakhir kali.

Meski tak selalu lolos aku terus mencoba tak ingin berlari, malah tertantang untuk menaklukkannya. Gagal dalam awal-awal memang sudah biasa. Tak mungkin seseorang langsung meroket dan berjaya. Semua butuh proses menuju mimpi yang ingin diraih. Pun denganku.

Mengingat betapa seringnya aku tak lolos lalu mencoba dan mencoba, akhirnya buah kerja keras itu muncul juga, bisa menjadi salah satu kontirbutor dan mendapat sertifikat untuk pertama kalinya itu sungguh sesuatu yang tak kunyana, lalu melihat namaku bisa nangkring dalam cover buku untuk diterbitkan itu sungguh kebanggaan.

Paling, tidak karyaku sudah dibaca dan itu lebih dari kepuasan batin yang aku rasa.

dari main-main itulah akhirnya ketagihan, apalagi melihat banyak penulis lain yang begitu menginspirsi, jadi ingin mengikuti jejak yang dimiliki. Berbalut modal nekat.

Lagi, lagi dan lagi aku ikuti, dan alhamdulillah kini lebih sering lolos, walau kadang masih ada yang tak tergapai hanya bengong. Aku jadi semakin semangat menuangkan kata yang pernah padam itu. Lalu kuputuskan bergabung dalam grup-grup kepenulisan, belajar tentang EYD dan masalah lain tentang menulis. Bertemu banyak penulis lain yang saling mengingatkan, hem senang sekali rasanya.

Dari sana aku tahu, kenapa naskahku tak lolos, dan aku bertekad akan terus mencoba, dan belajar, tak lupa memperbanyak bacaan untuk  tambah wawasan.

"Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tapi kesuksesan yang tertunda yang belum bertemu muaranya."

Ya, itu kata-kata yang aku gunakan untuk memotivasi diri, agar ketika gagal tak langsung menyerah tapi memperbaiki diri.

"Dalam sebuah perlombaan, menang adalah poin tambahan dari keberanian untuk mencoba."

Satu lagi motivasi yang aku genggam erat agar tak mudah bersedih.

Berkompetisi itu pasti ada yang kalah dan menang, tak mungkinlah semua menang, jadi kalau mau ikut lomba juga harus memiliki hati lapang, berbesar hati menerima kekalahan, namun tak jumawa ketika meraih kemenangan.

Dari perjalanan itu, sebuah mimpi yang kupikir tak pernah bisa aku miliki, bisa aku raih. Dan kupikir semua  kemenangan ini bukan hanya karena diri semata, tapi karena campur tangan Sang Penguasa.

Aku sadar diri, aku hanyalah manusia biasa, aku berikhtiar dengan lomba, dan Alllah yang membantu mewujudkan cita itu menjadi nyata. Jadi, tak perlulah sombong karena sejatinya Maha Segala saja begitu pemurah.

Puji syukur kinilah yang ingin aku ucap setelah sekian lama mencoba, akhirnya aku bisa memiliki banyak sertifkat kepenulisan, mengingat berjuta kali gagal rasa itu terpuaskan dengan pengganti lainnnya. Dari bulan Maret yang tak tahu apa-apa, bulan April dan Mei yang jarang online, lalu bulan juni hingga sekarang tujuh puluh tiga sertifikat kini aku dapatkan, dan tujuh puluh antologi bisa aku kantongi belum lagi masih menunggu yang lain yang masih proses penerbitan.

Alhamdulillah, yang tak terkira, kalau bukan karena keridaanNya padaku, apakah bisa kusematkan semua itu? Tidak Allah tetap berperan penting akan segala aktifitasku. Allah membalas dari kerja keras yang dilakukan umat-Nya.

Namun, janganlah mudah menyerah ketika Allah tak juga mengijabahi harapan yang ingin dimiliki. Kadang Allah tahu yang terbaik kapan rencana itu diberikan.

Karena itu aku selalu belajar berpikir positif.

Dari perjalanan ini pun, aku masih belajar masih perlu mempelajari ilmu kepenulisan yang baik sesuai aturan. Aku masilah seorang awam yang butuh bimbingan, butuh pengarahan dan pencerahan, maka dari itu meski sertifikat menggunung, aku tak ingin berhenti belajar. Aku masih harus memperbaiki diri untuk memantapkan tulisan yang kumiliki.

Di sini adalah langkah awal dalam meraih mimpi, jadi sebelum mimpi itu menjadi nyata maka selamanya aku tetap belajar.

Bukankah Allah saja memerintahkan belajar sejak dari buaian hingga   raga memisahkan jiwa? Kenapa harus malas, kalau sudah menjadi orang besar bukan berarti berhenti belajar, tapi malah semakin  termotivasi untuk memperbaiki diri, menanggung tanggung ajwab yang lebih tinggi.

Semangat menulis masih terus aku nyalakaan agar bisa menghasilkan karya yang bisa memotivasi.

Sebuah harapan kecil ketika menapaki Tahun baru.

Menulis, menulis dan terus menulis untuk kebaikan diri sendiri.


#Motivasi untuk memperbaiki diri, semoga kedepannya lebih baik lagi#

Srobyong, 2 Januari 2015

[Cerpen Horor] Pesan Kematian



Judul : Pesan Kematian
Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Clara menatap nanar tubuh yang tergeletak di sana. Kasihan sekali dia yang kini tak lagi bersatu dengan raga. Tak bisa lagi menghirup udara segar, akan terkungkung dengan pengapnya tanah yang menghimpit ruangan.

Ah, gadis yang malang. Pikir Clara. Dia pun meninggalkan kerumunan orang-orang di jalan raya.

Dia memilih melanjutkan perjalanan menuju vila tempat liburan yang akan dia tuju. Mungkin sekarang tinggal dia yang belum sampai dan ditunggu-tunggu.

Brak!

Mobil Clara menabrak sesuatu. Segera dia turun memeriksa apa yang terlindas di sana.

Kucing hitam tergeletak, bersimbah darah.

Keringat dingin langsung menjalar di tubuh Clara. Semoga mitos yang selama ini ada itu tidak benar. Dengan cepat dia meninggalkan kucing itu dan bergegas menginjak pedal gas mobilnya.

“Sial, banget sih gue. Ah kucing sialan ngapain juga main dipinggir jalan,” gerutu Clara masih dengan menyetir.

“Tapi perasaan gue nggak enak banget kenapa, ya?” Bulu kudu Clara merinding semua. Dia menatap kesekeliling namun tak menemukan apa-apa.
Hentakan musik lagu Avril membuat jantungnya hampir copot, diliriknya Handphone yang tergeletak di dekatnya.

Fian ternyata.

“Sudah sampai mana Ra?”

“Ini sudah mau nyampai puncak, tapi Ian, gue tadi nabrak kucing hitam gimana dong?” cerita Clara ketakutan.

“Alah, santai saja, Ra. Loe nggak bakal kenapa-napa. Sudah naik saja cepat ke sini. teman-teman sudah pada nungguh nih,” seloroh Fian.

Clara menurut menghilangkan segala kemungkinan buruk yang sejatinya sangat dia takuti.

Clara menghidupkan musik untuk menemani kegelisahan yang menggelayutinya. Hari sudah semakin gelap tapi dia belum juga sampai di puncak. Padahal kalau mengikuti rutenya sudah seharusnya satu jam yang lalu dia sampai.

Tapi entah kenapa rasanya dia hanya berputar-putar di jalan ini.

"Meong, meong."

Suara kucing yang membuat Clara langsung paranoid, dia mengecek dari mana sumber suara itu tapi nihil.

Gue pulang aja kali ya. suara hati Clara, tapi nanggung juga sih, pikirnya lagi.

Clara berkutat dengan pikirannya, sehingga tak menyadari sosok hitam yang telah mendekatinya.

“Aaaa …!” teriak Clara melihat makhluk dihadapnnya.

Mata tajam yang menghujam dengan kuku panjang siap menerkam.

Jantung Clara berdeta cepat tak tentu arah. Dia bergerak cepat ingin keluar dan meminta pertolongan, namun nahas malam yang telah larut membuat jalanan sepi tak ada warga yang melewati.

Dua rumah yang paling dekat dengan hutan ini telah mematikan lampu tak bisa membantu.

Clara pun berlari, dia tidak mau mati konyol dimangsa makhluk tak berbudi. Dengan nafas terengah-engah dan ketakutan yang membuncah dia berhasil kabur. Tapi …,

Jreb

Darah mengalir deras dari tubuh Clara yang kini menganga menatap makhluk itu yang berhasil membunuhnya.

Sesal itulah yang kini Clara rasa, andai dia bisa mengulang waktu, memahami pesan kematian yang dilihatnya, tak mungkin di memaksa untuk pergi.

Ya, mayat yang terbujur kaku di jalan adalah mayat dirinya sendiri—Clara.

Srobyong, 1 Januari 2015.


[Cerpen] Menggapai Bintang

Judul : Menggapai Bintang
Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/Ratna Hana Matsura

Cika sedang senang saat ini. Pasalnya sekarang dia sedang dekat dengan Bintang. Dia cowok paling popular di seantaro SMA Budi Utama ini. Semua bermula dari ketidak sengajaan yang membuat mereka bertemu dan menjadi akrab seperti sekarang ini.

Hari jumaat lalu ketika Cika dan Yasmin—kakaknya sedang asik memilih novel dan manga terbaru, dia bertemu dengan Bintang kakak kelasnya di sekolahnya itu. Siapa sangka mereka ternyata memilki hobi yang sama yaitu doyan membaca manga. Jadi sejak hari itu, mereka berikrar menjadi teman. Cika senang bukan kepalang. Bagaimana tidak, dulu untuk berbicara dengan Bintang saja rasanya sulit. Dia selalu beriringan dengan teman-temannya yang super duper elit. Cika tahu diri, siapa dirinya yang hanya seorang siswa di Budi Utama karena beasiswa. Jadi dia sedikit minder jika berteman dengan para elit pemilik yayasan ini. Meski Cika tahu dia bukan orang sombong yang membanggakan harta orang tuanya.

“Senang bertemu denganmu Cik, lain kali kita mengobrol lagi.” Bintang berlalu meninggalkan Cika yang masih terbengong itu. Bintang cowok yang selalu dia idolakan. Ini seperti mimpi.

Dengan perasaan berbunga-bunga Cika pulang. Dia sudah tidak sabar menuangkan segala rasa yang ada di dada pada buku diarynya tercinta. Yasmin hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.

Dear Diary, Aku senang sekali hari ini bisa bertemu dengan Kak Bintang. Cowok yang selalu aku banggakan. Yang selalu membuat jantung berdetak dikala melihat senyumnya yang menawan. (Jumat, 28 Agustus 2014)

~*~
Sekolah geger ketika melihat Cika datang ke sekolah bareng dengan Bintang. Semua mata tertuju padanya. Dia sekarang bak cinderela.

“Kenapa Cika bisa bareng Bintang?” kasak-kusuk itu terus terngiang.

“Paling Bintang kasihan jadi diajak sekalian,” salah satu siswa menebak asal.

Padahal kenyataanya adalah Bintang hari ini memang sengaja menjemput Cika untuk diajak sekolah bersama.

Di kelas Cika langsung di serbu teman-temannya. Semua menodong ingin mendengar cerita dari Cika. Untunglah bel masuk kelas berbunyi, jadi dia selamat dari teman-temannya yang masih ingin mengorek informasi.

“Cik, aku penasaran deh,” ucap Mita teman sebangku Cika dan juga sahabatnya.

“Nanti aku ceritakan.” Cika berjanji pada sahabatnya itu.

Namun, belum sempat Cika untuk bercerita pada Mita di waktu istirahat, Bintang muncul dan memanggil Cika.

“Cik, ke kantin yuk.” Tanpa menunggu persetujuan Cika, Bintang langsung meraih tangan Cika untuk diajak ke kantin.

Sekarang semua cewek semakin cemburu dengan Cika. Bintang selalu membuat sensasi dengan siapa pun yang ada di dekatnya.

“Wah, aku jadi terkenal gara-gara dekat dengan Kak Bintang,” ucap Cika jujur.

“Benarkah? Bukankah dulu kamu memang sudah terkenal?” Bintang menatap Cika.

“Terkenal apa Kak? Ngaco deh, Kak Bintang tuh yang terkenal. Jago basket banyak penggemar pintar di pelajaran pula,” Cika menjelaskan semuanya.

“Hahha, masak sih? Kok aku nggak merasa ya?” Bintang cuek.

“Aku pikir kamu terkenal Cik, dengan segala prestasi belajar dan kompetensi yang kau ikuti, kau juga selalu mempersembahkan juara untuk sekolah. Kau sudah pintar sejak dari SMP kan, hingga kau bisa mendapat beasiswa di sini untuk melanjutkan SMA,” ucapan Bintang mengangetkan Cika. Dari mana dia tahu semua prestasinya.

“Lho Kak Bintang kok tahu,” Cika bingung.

“Ada deh, pokoknya aku salut sama kamu, coba aku ini satu kelas dengan kamu, pasti aku kalah telak tidak bisa mengalahkanmu.” Bintang terkekeh. Cika hanya tersipu malu.

“Wah, ini ya yang namanya Cika.” Tiba-tiba, teman-temannya Bintang ikut bergabung dengan meja mereka.

“Manis juga.” Mereka tertawa renyah. Membuat Cika sedikit salah tingkah.

“Tidak usah dipikirkan Cik, mereka memang seperti itu. Suka sekali iseng,” Bintang menjelaskan.

Semakin hari, Cika dan Bintang semakin dekat. Mereka selalu berangkat bersama dan pulang bareng dari sekolah. Cika juga selalu meluangkan waktu untuk menunggu Bintang yang latihan basket di setiap ada jadwalnya.

Mereka sudah seperti lem dan perangko yang tidak terpisahkan.

“Hari ini, kita mau ke mana nih?” Bintang bertanya lembut pada Cika yang ada di sampingnya.

“Ke mana ya?” Cika nampak berpikir, dia memandang langit seolah meminta jawaban.

Tapi, sebelum Cika menentukan pilihan, Bintang malah sudah membawa Cika ke café shop langganan mereka.

Bintang memesankan menu kesukaan Cik yang sudah dia hafal di luar kepala. Cika semakin kagum dengan cowok di depannya. Cowok yang selalu perhatian dan memanjakannya. Entah sampai kapan jalinan pertemanan itu bertahan. Cika tidak tahu.

Jujur, sebenarnya Cika memiliki rasa lebih dari sekedar teman pada Bintang. Namun, dia belum berani bilang pad Bintang. Dia malu. Apakah Bintang juga memiliki rasa yang sama terhadapnya? Entahlah Cika tidak tahu. Dia berharap kisah mereka bisa terus beradu.

Cika merebahkan tubuhnya di kasur kesayanganya. Di carinya buku diary yang selalu menemaninya. Dia membolak-balik membaca kembali setiap cerita yang dia tuangkan saat kedekatan dengan Bintang semakin mesrah.

Dear Diary, Kamu tahu ngak, aku semakin cinta mati dengan Kak Bintang. Aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya. Apa itu mungkin diary? Aku selalu ingin di dekatnya.

Diary, kenapa ya dia selama ini baik sekali padaku, selalu memerhatikanku dengan berlebih. Apa dia juga menyukaiku? Diary ayo ngomong jangan diam saja dong, jawab aku? (Sabtu, 13 September 2014)

Cika memeluk bukunya erat, menentramkan rasa yang kini menggerogotinya karena memikirkan Bintang yang selalu dalam benaknya. Senyumnya, kebaikannya. Sikap lembutnya, semua membuat Cika makin mabuk kepayang.

Sebagian orang menganggap mereka pacaran. Kalau pun iya Cika sangat senang. Tapi, pada kenyataannya mereka itu teman yang terlihat mesrah. Bintang tidak pernah mengatakan rasa suka pada Cika.

Cika sampai gemas dibuatnya. Dia juga ingin tahu alasan Bintang yang selalu memanjakannya,kenapa Bintang selalu berusaha membuat dia senang.
Minggu pagi, Bintang sudah di depan rumah. Cika yang masih kucel kaget dengan kedatangannya.

“Kak Bintang pagi-pagi udah ke sini? Kangen Cika ya?” ucap Cika tersenyum.

Bukannya menjawab Bintang malah mengacak-acak rambut Cika yang tergerai itu.

“Mau tahu aja, dah mandi sana? Cewek kok jam segini masih kummel, bau!” Bintang menutup hidungnya. Cika mendelik dan langsung kabur untuk mandi.

“Rajin sekali,” Jasmine, Kakak perempuan Cika menimpali. Sambil menunggu Cika, mereka melewatkan waktu dengan obrolan ringan di teras rumah.
Memicarakan tentang Cika yang tidak ada habisnya.

“Ehem ehem,” Cika sudah muncul dengan khas bau wangi di sepanjang teras ini. Dia mendekati Yasmin dan duduk di samping kakaknya.

“Kelihatannya, seru sekali, tawa kalian sampai terdengar tadi,” Cika mengomentari.

“Benarkah? Sayang?” Yasmin menatap adiknya lembut. Cika mengangguk pasti. Bertiga kini mereka saling berbagi cerita bersama. Angin menjadi saksi bisu keakraban yang tercipta itu.

Setelah kepulangan Bintang, diam-diam Cika menangis dalam kesendirian. Dengan menatap diarynya tersayang dan mulai bercerita.

Dear diary, Aku sungguh bodoh,ketika mengangap Kak Bintang menyukaiku. Mana mungkin dia suka dengan cewek ingusan sepertiku? Cewek yang seharusnya masih duduk di bangku kelas 2 SMP masih berusia 13 tahun. Ya, aku memang sekarang kelas satu SMA, karena ikut kelas acceleration. Tapi tetap tidak merubah usiaku bukan? Aku masih ingusan di matanya. Kak Bintang hanya menganggap aku seperti adik kecilnya.

Diary, aku sedih sekali dengan kenyataan pahit ini. Tapi, aku tidak ingin merusak kebahagiaan dua orang yang kukasihi. Kak Bintang dan Kak Yasmin yang ternyata baru mengikrarkan jalinan cinta yang tertata rapi yang tidak Cika ketahui. Aku yang tak peka, padahal selama ini kami memang selalu bertiga. Tapi aku seolah menyingkirkan keberadaan Kak Yasmin. Hanya menganggap aku dan Kak Bintang sebagai tokoh utama.

Kak Bintang dekat denganku karena aku adik Kak Yasmin, orang yang dia suka.
Betapa bodoh aku yang tidak menyadari kedekatan mereka selama ini. tentang Kak Bintang yang tahu segala prestasiku, itu pasti karena cerita Kak Yasmin yang tahu segalanya tentang aku. Kecuali secuil rasa yang aku simpan dalam goresan ini. Ah! Cintaku bertepuk sebelah tangan diary.

Diedit tanggal 29 Desember 2014.
Srobyong

[Cerpen] Pertemuan Dengan Alan




Judul : Pertemuan Dengan Alan

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura
    Bruk!

Buku Lila berantakan tercecer ke segala arah. Segera dia memunguti buku dan berbegas meninggalkan perpustakaan. Saat ini dia dikejar waktu agar tak terlambat ikut mata kuliah Pak Dion.

    “Hai! Ini buku kamu masih ketinggalan!” teriak seseorang yang bertabrakan dengannya.

Tapi, Lila tak mendengar, dia merasa sudah mengumpulkan semua buku dan bergegas pergi.

“Ya, dia nggak dengar.” Alan—cowok yang bertebarakan dengan Lila menimbang-nimbang satu buku yang kini berada di tangannya.

“Riyadus shalihin.”

Alan membuka buku yang masih dia pegang.

“Lila Nur Fadhilah. Fakultas Tarbiyah Pendidikan Agama islam."

Alan tersenyum sekarang dia sudah tahu harus ke mana mengantar buku ini. siapa tahu ini sangat penting bagi gadis itu.


*****

Lila kebingungan mencari buku ‘Riyadus shalihin’ yang sangat diyakini sudah dia bawa tadi.

“Waduh, bukunya di mana sih?” Lila menggeledah tasnya.

“Kok nggak ada juga.” Raut muka Lila sangat kecewa.

“Ya, jangan-jangan tadi terjatuh di perpustakaan.” Lila mengingat kejadian tadi pagi.

“Ah, kenapa aku ceroboh sekali? Padahal buku itu harus ada buat presentasi.” Lila kelimpungan sendiri.

“Kamu kenapa sih, La. Dari tadi kayak cacing kepanasan,” seloroh Nadia.

“Bukuku raib, Nad. Dan aku tak tahu di mana,” jelas Lila.

“Lho, kok bisa. Sudah kamu cari dengan benar?”

“Masih satu sih yang belum aku datangi, tapi …,” Lila tak menyelesaikan ucapannya.

“Tapi kenapa La?”

“Kalau tidak ada juga gimana?”

“Ya, dicek dulu sana gih,” saran Nadia.

Lila pun bersiap melesat ke sana. Tapi langkah itu tertahan ketika ada seseorang yang bernama Alan, katanya sedang mencarinya.

“Siapa, Lin? Alan?” Lila bingung, selama ini sepertinya dia tak mengenal nama itu.

“Anak bahasa Inggris. Coba temuin aja dulu. Siapa tahu penting.”

Lila menurut di sana berdiri sosok pria yang sedang menunggunya.

“Alan, ya? Ada perlu apa?” tanya Lila langsung.

Dia masih harus ke perpustakaan. Alan hanya tersenyum melihat sosok yang sejak tadi dia cari. Dia gadis yang cantik dengan balutan jilbab putih yang dikenakan kini.

“Ini buku kamu. Tadi terjatuh saat kita bertabrakan di perpus.”

Alan menyodorkan ‘Riyadhus Salihin’ pada Lila.Wajah Lila langsung sumigrah, segera dia berucap syukur dan say thanks pada malaikatnya hari ini—Alan.

Pertemuan singkat itu ternyata cukup berkesan dari kedua belah pihak, apalagi ketika mengetahui bahwa memiliki hobi yang sama. Mereka pun saling bertukar nomor untuk menjalin pertemanan.


****

Keesokan harinya, Lila menunggu Alan sesuai janji yang mereka buat. Rencananya mereka mau hunting buku bareng.Namun sedari tadi dia menunggu, Alan tak kunjung datang.

Dia mencoba bertanya pada teman fakultas Alan.

“Alan, ya? Dia meninggal hari ini, karena kecelakaan ketika akan ke kampus.”

Lemas itulah yang Lila rasakan. Kenapa secepat itu dia mengambil Alan yang baru dikenalnya kemarin . Pertemuan pertama juga terakhir.

Pertemuan yang sejatinya telah menggetarkan hati Lila yang selama ini tertutup rapat tak ada yang mampu menjebolnya.


Srobyong, 30 Desember 2014.  

[Cerpen Horor] Sisi Gelap





Sisi Gelap


Kazuhana El Ratna Mida


Rona menatap ke luar, melihat perbedaan yang begitu mencolok dari apa yang dia rasakan sekarang—di kamar yang pengap tak ada kebebasan.


Ya sejak hari naas itu, dia terjabak di sini. Tak bisa ke mana-mana dikurung bak pesakitan jiwa.



~*~


“Kenapa? Padahal aku tak bersalah,” ucap Rona sambil menatap ke luar jendela. Dia terlihat sedih dan merana.


  Rona menjulurkan tangannya ke luar, mecoba menikmati esensi hujan ketika menyentuh kulitnya. Sudah lama dia tak merasakannya.


 Klik! Pintu terbuka membuyarkan kenikmatan yang baru Rona rasakan.

 
 “Makanlah dulu, Na.”


 Rona membalikkan badan, melihat sosok yang kini ada dihadapannya. Dia menatap menu makanan yang disiapkan khusus untuk dirinya.


 Beracunkah? Apa kalian akan membunuhku juga? Rona berkutat dengan prasangkanya.


~*~


  Jress, darah mengalir deras.


 Auw!  Lepaskan! Maafkan aku!


 Rona menutup telinganya, kenangan masa lalu yang dia coba hilangkan kini merasuk lagi membunuh logika dan jiwanya.


 “Itu bukan salahku.”


  “Ya, kau yang membunuhku. Kenapa?” suara itu terdengar lagi.


  “Kau yang mendekatiku, aku tak membunuhmu!” bantah Rona dan mendorong suara itu agar tak menganggunya.


  “Kau yang membunuhku,” suara itu bersikeras.


 “Tidak! Pergi kau jangan ganggu aku. Pergi! Pergi!” usir Rona.


 Seisi rumah yang mendengar teriakan Rona segera melihat ada apa gerangan yang terjadi.


  Rona menangis memukul diri sendiri, dan menjambak rambutnya.


  “Aku tak bersalah,” isaknya kemudian.


~*~

        
 Rona menatap nanar pisau yang ada dihadapannya, dia ingat sekarang hari itu, ketika kemarahan yang memuncak dia menacapkan belati itu di dada Rina kembarannya yang selalu disayang orang tuanya.


“Aku memang tak sepintar Rani, tapi kenapa kalian harus pilih kasih,” isak Rona.

 “Jadi bukan salahku jika harus cemburu.” Rona menyeringai.

 “Ya, aku yang membunuh Rina.” Rona tertawa terbahak.


 Sisi gelap yang dimiliki—kejam tega membunuh siapa saja yang mengusik kebahagiaannya.


 Kecemburuan ternyata telah menciptakan dunia gelap hingga memunculkan pribadi lain dalam dirinya.


Sby, 30/12/14