Dimuat di Kabar Madura, Selasa 4 Februari 2020 |
Judul : Hijrah Asmara
Penulis : Madun Anwar & Sukma
El-Qatrunnada
Penerbit : Loka Media
Cetakan : Pertama, Januaari 2019
Tebal : 213 halaman
ISBN : 978-602-5509-18-6
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
“Seorang ibu pasti menginginkan hal baik pada
anaknya. Apalagi, anaknya perempuan.” (hal 43).
Setiap
orangtua sudah pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Orangtua tidak segan
untuk memberi nasihat serta arahan, agar
anak tidak sampai berada di jalan yang salah. Karena itu sebagai anak sudah
semestinya kita harus patuh dan taat kepada orangtua. Jangan sampai kita
menjadi anak durhaka dengan melawan
perintah atau menolak nasihat orangtua.
Mengambil tema yang sudah banyak digarap di pasaran, hal itu tidak mengurangi
keunikan dari kisah ini. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, novel ini
cukup menarik untuk dibaca.
Novel ini sendiri menceritakan tentang Ara,
mahasiswa semester tiga jurusan PGSD di Lombok yang tengah dilema. Sebagai
gadis normal lainnya Ara tentu pernah merasakan jatuh cinta dan ingin mencoba
serunya masa pacaran. Namun di sisi lain, ia juga ingat bagaimana peringatan
keras orangtunya perihal pacaran. Menurut ayahnya, pacaran hanya akan membuang
banyak waktu dan lebih dekat pada perbuatan tercela. Daripada pacaran lebih baik fokus untuk
belajar dan berbakti kepada orangtua.
“Papa tidak mengizinkan aku pacaran sebelum selesai
kuliah. Sedangkan mama setuju asal ketika pacaran aku bisa menjaga diri, dan
nilai-nilai kuliahku tidak terganggu.” (hal 21).
Namun siapa yang tidak tergoda ketika tiba-tiba
Fatih—salah satu mahasiswa populer di kampus, menyatakan cinta dan mengajak Ara
pacaran. Akhirnya, demi memuaskan ego dan rasa penasarannya, Ara berani
melanggar perintah orangtuanya dengan berpacaran. Diam-diam Ara kerap pergi hang out bersama Fatih dan
menjalin hubungan terlarang tersebut. Hingga suatu hati ia mendapati kabar yang
tidak terduga. Fatih dan ketidaksetiaannya serta berderet masalah yang membuat
Ara bingung dan bimbang.
“Kecewa. Hal yang memang terasa sakit. Bayangkan,
jika kamu percaya pada seseorang dan harapanmu sangat tinggi terhadapnya, tapi
karena ketidakmampuan seseorang itu atau bisa saja karena sebab lain, ia
membuatmu kecewa.” (hal 44).
Di sisi lain kejadian itu mempertemukan Ara dengan
Arum. Kisah yang sedikit banyak membuat Ara belajar banyak hal, juga menemukan
makna hidup yang sebenarnya. Yang jadi pertanyaan, Kira-kira apa yang
sebenarnya tengah terjadi dengan Ara? Benarkah Fatih berselingkuh? Dari siapa
akhirnya sang ayah tahu bahwa dirinya telah melanggar janji dengan berpacaran?
Serta siapakah sosok Arum yang tiba-tiba mampu mengobati luka Ara? Selain
pertanyaan-pertanyaan itu masih banyak hal-hal lain yang membuat novel ini
menjadi menarik dan membuat kita penasaran. Kisah ini diramu cukup apik oleh
dua penulis asal Lombok dan Jambi. Meski pada beberapa bagian percakapan dan
narasinya masih terasa kaku dan belum berhasil menghidupkan kisah secara
keseliuruhan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini memiliki cukup banyak
pembelajaran dan cukup menarik dalam memadukan lokalitas daerah Lombok dalam cerita.
Membaca kisah ini kita akan diingatkan pentingnya
menghormati orangtua dan selalu menjaga diri dengan menjaga pergaulan yang
baik. Selain itu melalui kisah ini kita
juga belajar pentingnya memiliki visi dan misi untuk menjadi pribadi yang lebih
baik, memiliki semangat juang untuk meraih mimpi, serta belajar move on
dari kesedihan dengan bangkit dan tegar dalam segala kondisi.
“Kesedihan
itu tidak akan berakhir jika kita sendiri tidak mengakhiri itu semua.
Kehidupan itu tetap berjalan. Jadi, perbaiki hidup dan berusaha tegar untuk
menjalani hidup.” (hal 116).
Srobyong, 14 September 2019
Bener banget sama poin pesan novel ini, menghormati orang tua. Dan kadang orang tua melarang anaknya terhadap sesuatu, semata-mata demi kebaikan si anak. Saya pun pernah menentang apa kata orang tua dan imbasnya apa yang saya anggap benar tidak membuat saya benar.
ReplyDeleteBetul sekali. Karena itu meski kadang kita tidak suka, dianjurkan tetap mengargai pesan orangtua.
DeleteTerima kasih sudah berkenan. Selalu suka dengan ulusannya. Semoga novel ini membawa ke berkahan bagi pembacanya.
ReplyDeleteTerima kasih kembali Mas. Aamiin semoga Mas, insya Allah banyak hal yang bisa dipetik dari novel ini. Semangat berkarya.
Delete