Tuesday, 13 February 2018

[Resensi] Belajar Memaknai Kesabaran dan Keikhlasan Melalui Novel

Dimuat di Koran Pantura, Senin 5 Februari 2018 


Judul               : Bidadari Bermata Bening
Penulis             : Habiburrman El Shirazy
Penerbit           : Republika
Terbit               : April 2017
Cetakan           : Kedua, Mei 2017
Tebal               : iv + 337 halaman
ISBN               : 978-602-0822-64-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Kalau misal nanti  kenyataannya tidak seperti yang kau bayangkan. Kamu harus sabar.” (hal 121). 

Mengambil latar dunia pesantren, novel ini mengajarkan bagaimana cara memaknai kesabaran dan keikhlasan.  Dengan gaya tutur bahasa yang halus dan renyah, Kang Abik—panggilan dari Habiburrahman El Shirazy hadir kembali menyapa  pembaca Indonesia  dengan kisah novel religi yang tidak kalah inspiratif dari karya-karya sebelumnya.

Novel ini sendiri berkisah tentang sosok Anya yang tengah menuntut ilmu  di Pesantren Kanzul Ulum, pesantren tua di Magelang, yang diasuh oleh Kyai Sobron. Selama mengais ilmu di sana, Anya merupakan khadimah—pembantu perempuan atau abdi dalem dari pondok pesantren tersebut.  Selama mondok di sana, selain mendapat kawan-kawan yang baik dan menyenangkan, Anya juga dihadapkan pada berbagai permasalahan yang cukup pelik. Baik itu dari kawannya sendiri yang memiliki kebencian juga dari keluarga dekatnya sendiri—yaitu keluarga Pakde Darsun yang merupakan saudara satu ibu dari ibunya.

Namun begitu, berbagai tekanan yang didapat Anya tak pernah membuatnya gentar. Anya adalah sosok pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup. Ketika dia dan ibunya di fitnah, Anya dengan keberaniannya mematahkan fitnah tersebut. Dan ketika dia diejek—bahwa nantinya dia hanya akan menjadi TKW seperti ibunya, Anya malah menunjukkan kepandaiannya dengan mendapatkan nilai tertinggi UN se-Jawa Tengah (hal 12-13).

Itu hanyalah awal dari perjalanan hidup Anya. Karena setelahnya, kehidupan Anya jauh lebih berliku dan penuh dengan tantangan. Sebagai gadis yang kini yatim piatu, Anya sadar bahwa tidak mungkin baginya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini-lah yang pada akhirnya membuat Anya ingin tetap tinggal di pondok. Namun sebuah tawaran dari Bu Nyai Nur Fauziyah, akhirnya membuat Anya memilih boyong.  Bu Nyai Nur Fauziyah melamar Anya untuk Kyai Yusuf Badrudduja yang saat itu sudah ditinggal mati istrinya.

Anya sangat bersyukur dengan tawaran itu, karena dia yakin pilihan yang dipilihkan Bu Nyai adalah pilihan yang terbaik bagi dirinya. Namun malang, ketika dia mendiskusikan keinginannya itu kepada  Pakde Darsun dan istrinya, mereka malah menolak pinangan itu.  (hal 135).

Di sinilah ujian berat tengah menanti Anya. Ternyata pakde-nya telah menyusun rencana tersendiri untuk menikahkan dirinya dengan Yoyok—seorang pengusaha kaya dan anggota DPRD. Jika dia menolak tawaran pakde-nya, maka tali kekeluargaan mereka akan putus. Betapa hancurnya hati Anya. Andai saja ibunya tidak memberi wasiat padanya untuk tidak memutus tali silaturrahmi, dia sudah pasti memilih menolak mati-matian perjodohan itu.

Dan ketika Anya berharap ada sebuah mukjizat—pertolongan yang bisa mengeluarkannya dari lingkaran setan itu, ternyata pertolongan yang diharapakannya datang sangat terlambat. Ketika keluarga Pak Kyai Sobron ingin meminang Anya untuk Gus Afif,  Anya sudah terlanjur menerima pernikahan itu. Perjuangan keras hidup Anya pun dimulai dari titik itu. Bagaimana di menjaga kesuciannya agar tidak direnggut paksa oleh suaminya yang kerap mabuk dan main wanita. Serta bagaimana dia berjuang menjaga diri agar tidak dijual oleh sang suami untuk menutup perbuatan Yoyok yang melakukan korupsi.

Sebuah novel yang patut dibaca untuk sebuah perenungan. Dipaparkan dengan apik dan memikat membuat novel ini tidak membosankan. Meski pada beberapa bagian ada yang mudah ditebak, Kang Abik tetap menyiapkan kejutan-kejutan kecil yang tidak terduga.

Tidak ada gading yang tidak retak. Di sini saya masih menemukan cukup banyak kesalahan salah tulis. Juga sedikit  kesalahan dalam sebuah penjabaran masalah masa Iddah. Dalam sebuah bagian dipaparkan bahwa sudah seyogyanya wanita yang habis dicerai itu harus menunggu masa iddah sebelum dipinang orang lain. Itu benar jika mereka cerai dan pernah dikumpuli. Namun berbeda jika wanita yang menikah dan dicerai dan  belum dikumpuli, maka tidak ada masa iddah bagi wanita tersebut (hal 218).

Namun lepas dari kekuarangannya, novel ini tetap memiliki banyak sisi positif yang patut dijadikan pembelajaran. Di mana kita bisa belajar tentang bagaimana  Anya dan Gus Afif yang ternyata diam-diam saling menyukai, itu menjaga cinta. Serta bagaimana Anya berjuang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan ketika berbagai cobaan selalu datang menyapanya.

Srobyong, 4 Juni 2017 

Saturday, 3 February 2018

[Resensi] Jejak Perjuangan RA Kartini dalam Persamaan Wanita

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 19 Januari 2018 


Judul               : Kartini
Penulis             : Abidah El Khalieqy
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 376 halaman
ISBN               : 978-602-385-280-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Siapa yang tidak mengenal sosok RA Kartini? Perempuan yang lahir di Jepara, 21 April 1879, merupakan pahlawan wanita yang memiliki sumbangsih dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Keberanian RA Kartini dalam menentang adat tradisional tentang kasta antara wanita dan pria. Bahwa wanita tidak diperbolehkan keluar rumah jika sudah masa pingitan, tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan setinggi mungkin dan adanya perbedaan kasta antara perempuan bergelar Raden Ayu dengan perempuan pribumi.

“Jadi karena aku ini seorang Raden Ayu, maka nasibku jauh lebih baik dibanding perempuan pribumi lain. Bukankah kami sama-sama perempuan. Sama-sama manusia juga. Mengapa ada perbedaan.” (hal 57).

Berbeda dengan kamu lelaki yang memiliki kebebasan mutlak untuk memperoleh pendidikan, menjelajahi banyak tempat bahkan bebas berpoligami jika memang suka. Dalam pandangan tradisi lama tersebut, wanita diharuskan belajar tentang kewanitaan—yaitu mempelajari bagaimana cara menjadi wanita terhomat dengan pandai memasak dan pandai melayani suami. Inilah yang sangat ditentang Kartini. Menurutnya seorang wanita berhak memperoleh pendidikan selayaknya wanita. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam surat  Al-Mujadalah ayat 11, yang pernah diterangkan Kia Soleh Darat,  “Bahwa setiap muslim baik laki-laki atau perempuan berhak memperoleh pendidikan.” (hal 260). 

Buku ini dengan penyajian yang menarik dan tidak membosankan, mengungkap kisah perjalanan Kartini dalam usahanya memperoleh  keadilan—yaitu kebebasan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan dan menghapus diskriminasi yang diterima wanita pribumi.

Kartini memang lahir sebagai putri dari Bupati Jepara—Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, namun dia tidak terlahir dari ibu bangsawan. Ibunya—Ngasirah, adalah  putri dari  Kyai Haji Madiro, guru agama di Telukawur, Jepara. Karena alasan ini, Kartini tidak bisa memanggil ibunya dengan sebutan”ibu”. Dia harus memanggil Ngasirah dengan sebutan “Yu” dan membiarkan ibunya tinggal di kamar pembantu. Karena memang itulah adat yang ada.  Panggilan ibu hanya diberikan kepada ibu tiri Kartini yang keturunan bangsawan.

Selain harus melihat diskriminasi  yang terjadi pada ibunya, Kartini juga harus menerima kenyataan, setelah menamatkan ELS, dia harus dipingit. Yang artinya dia tidak  bisa keluar bebas, dan  tidak diperbolehkan menuntutut ilmu, padahal itulah cita-citanya.   Kartini tidak paham kenapa pendidikan yang bisa mencerdaskan bangsa malah dilarang dilakukan? Apa salahnya jika perempuan itu pintar?  Namun Kartini tidak menyerah. Setelah amarahnya reda, bersama Kartono, kakaknya dan dua adiknya, Kardinah dan Rukmini, mereka berjuang untuk keluar dari adat tradisi yang menurut mereka tidak adil.

Dengan bantuan Nyonya Ovink-Soer dan Rosa Abendanon—salah satu teman korespondesinya dari Belanda,   Kartini akhirnya bisa mendobrak adat. Dia mengeluarkan suara tentang ketidakadilan yang diterima kaum perempuan.  Jika Kartini merasa senang dan puas, maka berbalik dengan beberapa orang yang tidak menyukai tindakan Kartini. Ibu tirinya, dua kakak kandungnya dan paman-pamannya, mencoba berbagai cara untuk  mencegah usaha Kartini gagal.

Di mana pilihan itu sempat membuat Kartini meradang.  Mereka mendesak Kartini untuk menerima lamaran dari Bupati Rembang—Raden Mas Singgih Joyo Adiningrat.  Mereka pikir jika Kartini menikah, perjuangannya akan selesai. Tapi ternyata salah. Pernikahan ini ternyata malah membuka lebar perjuangan Kartini. Raden Mas Singgih Joyo Adiningrat, ternyata sangat mendukung perjuangan Kartini.  Dia bahkan mengizinkan Kartini mendirikan sekolah bagi kaum perempuan.  

Novel yang ditulis berdasarkan naskah  skenarion film ini,  digarap dengan apik.  Dari segi penokohan dan setting benar-benar kuat. Seperti melihat sendiri bagaimana kisah hidup Kartini di masa silam. Hanya saja pada beberapa bagian, saya merasa ada kejanggalan dengan hilang dan munculnya tokoh Rukmini secara tiba-tiba. Serta keberadaan Kartono yang hanya pemanis saja.

Namun lepas dari kekurangannya, buku ini menghadirkan kisah sejarah dengan nuansa yang berbeda. Kita bisa menikmati sejarah dengan menyenangkan tanpa tertekan karena selalu dijejali hafalan. Di sini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan membuang jauh-jauh rasa iri dan dengki.   “Kadang  orang yang cemburu bisa jadi kalap.” (hal 320). Kita harus percaya selalu ada jalan jika ada kemauan.

Srobyong, 9 November 2017 

[Resensi] Kritik Tentang Kekerasan Sosial Melalui Cerita

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 12 Januari 2018


Judul               : Malam Sepasang Lampion
Penulis             : Triyanto Triwikromo
Penerbit           : Kompas
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 192 halaman
ISBN               : 978-602-412-256-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Setiap penulis pasti memiliki keunikan masing-masing dalam mengeksekusi sebuah cerita dan pemilihan gaya bahasa. Ada yang suka menulis dengan gaya bahasa puitis, tersirat, tersurat bahkan satire.  Begitu pula dengan Triyanto Triwikromo, penulis yang juga Redaktur  Pelaksana Harian Suara Merdeka ini, memilih menulis dengan prosa liris—yaitu sebuah karya sastra yang memiliki  irama tertentu, di mana setiap kalimat mempunyai jumlah suku kata yang hampir sama. Dengan turut kata yang lembut dan menarik, penulis mencoba mengkritisi tentang berbagai kekerasan sosial yang kerap terjadi dalam masyarakat.

Kumpulan cerpen ini sendiri, terdiri dari 19 cerpen yang sebelumnya pernah ditayangkan di berbagai media. Seperti  Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka dan lain sebagainya.  Semua dikemas dengan apik dan menarik, sehingga kita akan dibuat penasaran dengan setiap cerita. Dan di sisi lain kita juga harus siap membaca kisah-kisah yang menurut saya mencekam dan mengerikan.

Misalnya saja cerpen berjudul “Ayoveva”. Cerpen ini dibuka dengan paragraf yang menarik dan membuat penasaran.  (hal 9).  Diceritakan meski Ayoveva mengetahui kenyataan tentang perihal dosa besar yang dia dapat ketika akan meninggalkan Ajjar, tetapi dia tetap bertekad untuk pergi. Ayoveva  tetap keukuh dengan pilihannya, meski dia sudah diingatkan berkali-kali.  Dia ingin membuktikan bahwa di luar Ajjar dia tetap bisa menemukan kebahagiaan, cinta dan wujud lain Tuhan yang lebih indah.  Dia pun memulai pengembarannya. Namun siapa sangka apa yang kemudian dia dapat setelah keluar dari Ajjar benar-benar di luar perkiraannya. Belum lagi ketika dia mendengar sebuah percakapan yang membuatnya menggigil. 

Cerpen ini seolah menunjukkan bahwa dalam masyarakat akan selalu ada perbedaan-perbedaan sikap dan pola pikir.  Selain itu  cerpen ini secara tidak langsung juga mengkritisi para pemimpin yang kerap kali tidak memiliki tanggungjawab—mereka suka menindas yang lemah dan melindungi yang kuat. Dan tidak ketinggalan  mereka menjadikan agama sebagai kedok untuk kejahatan.

Ada juga cerpen “Morgot” cerpen ini mengrkritisi manusia yang acap kali bersikap seperti ular. Licin dan berbisa.  Kita kerap melontarkan kata-kata berbisa untuk menyakiti orang lain juga digunakan untuk memengaruhi penduduk untuk memberontak.  Selain itu cerpen ini juga menyinggung tentang kekejaman  sekelompok orang,  yang rela membunuh demi memperkuatn kekuasaan (hal 42). Menceritakan tentang sosok Morgot dalam berbagai sisi dengan menarik dan ajaib.

Tidak kalah menarik ada juga cerpen berjudul “Pengadilan Terakhir”. Di mana cerpen ini mengkritisi sikap sebagian orang yang selalu mendewakan uang. Mereka tidak segan-segan menyuap agar bisa selamat. Dan mereka tidak takut hukum, karena hukum bisa dibeli. Oleh karena itu, kematian di mata mereka hanya sebuah keiseengan yang bisa dengan mudah diselesaikan dengan mencari kambing hitam untuk dijadikan korban.

Cerpen ini berkisah tentang Rosaria yang  tiba-tiba dia dihukum dan diadili karena dianggap telah membunuh Bapak Direktur, tempat dia bekerja. Dia dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan bahkan mengalami siksaan yang mengerikan. pakaiannya dirobek-robek, rambut dijambak, bahkan  dia diperkosa.  Namun apa yang bisa dilakukan orang kecil seperti dirinya? Karena bagi orang rendah seperti dirinya sia-sia jika melawan hukum yang mendewakan uang. Jadi jika dia tidak memiliki uang, maka sudah dipastikan dia akan kalah, meski dia tidak bersalah.  Dibukan dengan paragraf yang menarik dan ending yang diluar dugaan, membuat cerpen ini cukup menarik (hal 52).

Selain cerpen-cerpen tersebut tentu saja masih banyak cerpen-cerpen lain yang tidak kalah menarik dan mendebarkan. Seperti cerpen Bukit Cahaya,  Anak-Anak Pengasah Pisau, Malam Sepasang Lampion, Rahim Api, Ragaula dan banyak lagi.  Membaca ini kita harus siap dengan kepekatan penulis yang mengeksplore kekerasan. Hanya saja di balik keindahan gaya bahasanya, kadang saya harus membaca cerpen ini berkali-kali untuk menangkan isi cerita. Karena bagi saya gaya bercerita yang lugas bahkan satire lebih cepat dipahami dan menarik. Namun lepas dari kekurangannyaa kumpulan cerpen ini tetaplah karya yang patut dinikmati bagi penggemar prosa liris.

Srobyong,  14 Oktober 2017


Friday, 2 February 2018

[Resensi] Ketika Menjadi Korban Bullying di Sekolah

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 28 Januari 2018 

Judul               : Trisula Mentari
Penulis             : Shandy Tan
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 256 halaman
ISBN               : 978-602-03-3913-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Jika ada yang terus memperlakukanmu dengan buruk, bukan kamu yang bermasalah, melaikan orang itu. Manusia normal nggak berkeliaran dengan misi menyakiti orang lain.” (hal 117).

Novel ini  mengungkap tentang  pem-bully-an yang masih sering terjadi di sekolah. Sebagaimana kita ketahui, bullying adalah upaya penindasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Di mana penindasan itu biasanya hanya berupa gertakan, tekanan psikologi—dilakukan dengan mengejek kelemahan dan yang paling parah adalah dengan kekerasan—bisa dengan dipukul, ditendang dan lain sebagainya.

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Trisula Mentari. Gadis itu sudah di bully sejak duduk di bangku SMP, karena dia  mempunyai kemampuan clairaudience—mendengar suara orang yang sudah meninggal dan bisa berbicara dengan mereka (hal 148).  Dia dianggap aneh dan nakal.  Mengingat Trisula memang tidak pernah takut dengan pem-bully-an yang dilakukan padanya. Dia selalu berani melawan. Oleh karena itu,  dia semakin diajauhi teman-temannya.

Selain diajuhi teman-temannya, di mata guru, Trisula juga dianggap sebagai trouble maker, padahal apa yang dilakukan Trisula hanya sekadar untuk membela diri dari pem-bully-an yang dilakukan teman-temannya. Sayangnya, Bu Anita—guru BK Trisula sama sekali tidak percaya dengan pembelaaannya. Trisula selalu ditekan untuk mengalah dan tidak menanggapi berbagai keusilan teman-temannya, yang sesungguhnya membuat Trisula sedih.

“Perbaiki sikapmu, atau kamu mendapat sanksi berat berupa skors hingga dikeluarkan, dan ibu menyayangkan jika itu saampai terjadi. Kamu anak  pintar, nilai-nilaimu selama SMP di atas rata-rata. Alangkah  senangnya jika nilai bagusmu dilengkapi kelakukan bagus juga.” (hal 13).

Beruntung Trisula memiliki sahabat bernama Mikaela yang selalu memahaminya. Lalu suatu hari, ada Alfa murid baru yang terlihat lebih suka berdekatan dengan Trisula. Alfa menganggap Trisula adalah pribadi yang unik dan menarik. Karena itu dia senang jika berteman dengan Trisula, dari pada dengan Kristal, siswi paling cantik di sekolah, juga yang paling suka mencari masalah dengan Trisula. 

Trisula sungguh bingung dengan situasi itu. Karena selama ini dia sudah terbiasa dijauhi  di sekolah. Di satu sisi dia senang bisa memiliki teman baru. Tapi di sisi lain dia takut, kalau Alfa pada akhirnya akan takut jika mengetahui siapa Trisula yang sebenarnya. Seoraang siswi yang kerap dipanggil tukang sihir dan dukun santet, karena kelebihan yang dimiliki.   Namun, Mikaela meyakinkan Trisula, bahwa tidak ada salahnya kali ini dia membuka diri dengan berteman dengan Alfa. “Tidak ada larangan untuk memiliki teman lebih dari stu orang. Jangan berpikir negatif.” (hal 63).

Hanya saja saat Trisula sudah mulai merasa nyaman berteman dengan Alfa, sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Saat dia dan Mikaela bermain di rumah Alfa dan mengunjungi perpustakaan Alfa, di sana dia mendengar suara roh  jahat yang mengusir mereka. Dan yang lebih parah, roh itu melempar komik-komik di perpustakaan dua kali (hal 95).

Entah bagaimana Trisula menjelaskan kejadian itu pada Alfa. Apakah teman barunya itu lebih mempercayainya atau lebih percaya pada Kristal. Belum lagi di satu sisi, Trisula menyadari ada bahaya yang amat besar yang berada di rumah Alfa.

Sebuah novel yang cukup menarik. Novel ini memadukan kisah persahabat remaja dengan misteri dan horor.  Dipaparkan dengan cukup lues, membuat kisah ini asyik dibaca. Hanya saja untuk eksekusi akhir dari novel ini cukup membuat saya terkejut. Antara suka dan tidak suka. Kemudian soal pem-bully-an, penulis mencoba menunjukkan bahwa saat ini, perbedaan yang dimiliki seseorang kerap kali dipandang sebelah mata, dan membuat orang lain memandang rendah. Padahal seharusnya jika ada perbedaan, kita harus saling menghormati.

Membaca ini membuka cakrawala baru tentang bagaimana kita harus menghadapi sebuah perbedaan. Selain itu dari novel ini kita juga diajarkan untuk mensyukuri apa yang sudah digariskan Tuhan untuk kita. “Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datang dari benda-benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi.” (hal 49).

Srobyong, 5 Agustus 2017 

[Resensi] Bayang-bayang Prasangka dan Kepercayaan

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 21 Januari 2018 


Judul               : Kejujuran Seorang Maling
Penulis             : Fyodor Dostoyevsky
Penerjemah      : Noa Dhegaska
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 232 halaman
ISBN               : 978-602-6651-43-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Naskah asli sebelum ada editing dari redaksi Tribun  Jateng 

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky—merupakan penulis asal Rusia yang cukup berpengaruh di masanya. Dalam setiap karyanya dia memiliki ciri khas mengeksplore aspek-aspek psikologi dengan tokoh cerita yang cenderung berasal dari kelas menengah-bawah.  Selain membahas aspek psikologis, penulis juga kerap menggarap cerpennya dengan pembahasan yang pendalam perihal politik, sosial juga spiritual.  Tidak ketinggalan dalam setiap cerita yang diangkat penulis memiliki kecenderungan bermain misteri. Terdiri dari enam cerita,  buku ini cukup menarik dan membuat kita penasarannya. 

Sebut saja cerpen berjudul “Sebuah Kisah dalam Sembilan Surat” ketika membaca cerita ini kita harus sabar mengurai percakapan  antara Pyotr Ivanitch dengan Ivan Pertovitch melalui surat. Mengungkap apa yang  mereka perdebatkan dan kenapa mereka harus saling  mengirim surat.  Tapi yang lebih menarik adalah mengungkap siapa sebenarnya yang melakukan kebohongan dan kelicikan dalam kisah mereka.

Mengingat sebenarnya mereka dulunya adalah sepasang sahabat. Namun karena sebuah masalah, mereka melaukan perbebatan panjang melalui surat yang jujur saya bulang cukup pelik dan membingungkan.

“Aku tak tahu  sampai selama ini apa yang menahanku untuk menyatakan kebenarannya. Sekarang dengan gamblang kubilang bahwa sepertinya kau menelan ludahmu sendiri atas kesepatakan-kesepakatan kita mengenai perjanjian itu.” (hal 15).

Ada pula kisah berjudul “Istri Pria lain atau Sesosok Suami di Bawah Ranjang”  sebuah kisah yang cukup pelik tapi menarik untuk kita cari kebenarannya. Di mana suatu hari ada seorang pemuda sederhana bertemu dengan pria bermantel bulu rakun—di sini memang tidak dijelaskan secara gamblang nama-nama pria tersebut—si pria bermantel bulu rakun sedang mencari seorang wanita yang konon adalah istri dari temannya. Sedang si pemuda ini tengah menunggu pacarnya.  Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mereka sedang menunggu wanita yang sama?  Mungkinkah ini tentang sebuah perselingkuhan?

“Maafkan, maksudku, apakah kau sempat melihat seorang wanita dengan mantel bulu rubah, dengan tudung beludru gelap dan kerudung hitam?” (hal 35).

Tidak kalah menarik adalah cerpen “Kejujuran Seorang Maling”. Mendengar judul itu pasti kita akan bertanya-tanya. Bernakah seorang maling bisa jujur? Mengingat kebiasaan para maling adalah melakukan tipudaya dan tidak ingin tertangkap basah. Di sinilah menariknya.  Dengan bahasa yang tidak rumit, penulis sukses memebuat kita terperangah dengan sebuah kisah sederhana ini.  Kisah tentang Astavy Ivanovitch dengan pemilik rumah kosnya juga dengan teman lamanya Emelyan Ilyitch.

Dari kisah-kisah yang termatub di sini, penulis mengkritisi tentang rendahnya tingkat kepercayaan yang terbangun antara individu,  betapa manusia kerap kali diperbudak kerakusan akan uang, sehingga berani melakukan tindakan licik dan jahat, lalu banyak manusia yang gila kehormatan dan jabatan. Di sisi lain dari buku ini kita bisa mengambil pembelajaran bahwa kita harus menjauhi prasangka, cemburu buta dan dendam, kita juga harus membiasakan bersikap jujur. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat kita dihantui rasa bersalah sampai kapan pun. 

Srobyong, 30 Desember 2017