Tuesday, 2 December 2014

[Dongeng] Lala dan Negeri Dongeng


Judul: Lala dan Negeri Dongeng

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana matsura




Lala mendengarkan cerita ibunya dengan senang. Cerita tentang peri HUJAN dan pangeran KODOK yang sungguh membuat Lala penasaran. Dia berharap suatu hari bisa mengunjungi Negeri Dongeng. Bertemu pangeran kodok dan para peri yang ibunya ceritakan. Semoga pangeran kodok bisa berubah menjadi manusia lagi.

“Ibu, bagaimana Lala, bisa ke sana? Lala mau bertemu Putri Hujan,” ucap Lala.

Sang ibu hanya tersenyum, sambil melihat Lala yang lucu, berharap bisa pergi ke Negeri Dongeng.

“Lala, mau ke sana?” tanya sang Ibu.

Lala mengangguk dengan suka cita.

“Mau, Bu. Mau sekali. Pasti menyenangkan bisa bertemu peri hujan yang baik hati,”

“Suatu saat, Lala bisa ke sana. Sekarang tidur dulu, ya.” Ucap Ibu Lala bijak. Sang ibu mencium kening putrinya yang sudah siap tidur.

“Benarkah? Ibu akan mengantar Lala?”

“Iya, kalau Lala rajin, tidak nakal, dan menurut sama ibu, pasti ibu antar,”

“Baiklah, Lala janji akan rajin belajar dan tidak nakal.”

Setelah itu Lala tertidur nyenyak dengan senyum lebar.


*****
Sudah beberapa hari sejak ibu berjanji akan mengajak Lala jalan-jalan ke Negeri Dongeng. Tapi, sang ibu belum memenuhinya juga. Padahal Lala sangat ingin. Dia merengek pada ibunya.

“Maaf, ya, Sayang. Ibu belum bisa mengantarmu,” ucap ibunya sungguh bersalah. Lala hanya diam dan memilih pergi ke kamarnya.

Lala duduk dengan kesal, merasa ibunya sangat jahat dan tidak menyayanginya. Dia sungguh ingin ke sana. Tapi ibunya tak juga mengantarnya.
“Ibu, kenapa, sih. Padahal sudah berjanji.”

Dilihatnya buku bergambar yang menceritakan tentang Negeri Dongeng. Rasa penasaran Lala semakin besar.

Tiba-tiba sebuah cahaya keluar dari buku bergambar yang dibawa Lala. Dilepasnnya buku itu, dan dia mundur ke belakang. Seorang peri cantik mucul dan mengulurkan tangan pada Lala.

“Si-apa ka-mu?” tanya Lala terputus-putus.

“Aku peri hujan, Manis. Kau mau ikut aku ke negeriku?” peri itu tersenyum.

Tanpa banyak berpikir, Lala langsung setuju. Dia menerima uluran tangan Peri Hujan, dengan senang hati.

Sampailah Lala di Negeri Dongeng yang sangat cantik. Banyak bunga dan buah tumbuh di sana. Di mana mata memandang isinya penuh dengan tanaman cantik dan buah-buahan yang membuat Lala tersenyum bahagia.

“Cantik sekali, Peri,” ucap Lala takjub.

“Oh, iya, namaku siapa gadis manis? Aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih bagus dari ini. Nanti akan aku ajak kesuatau tempat juga.”
“Namaku, Lala, Peri.”

Dengan kekuatan Peri Hujan. Lala diajak mengelilingi Negara Dongeng dengan terbang tinggi. Selain banyak bunga yang tumbuh dengan indah, juga ada rumah permen yang begitu besar.

“Nanti, aku ajak ke sana juga,” peri hujan sepertinya bisa membaca pikiran Lala, ketika melihat Lala yang terus memperhatikan rumah permen.
“Asyik, benarkah?” Lala senang sekali.

“Nah, kita sampai,” peri hujan menurunkan Lala, di sebuah rumah kecil yang agak jauh dari istana.

“Ini, di mana, Peri?” tanya Lala bingung.

“Masuklah! Nanti aku akan mengenalkanmu pada seseorang.”

Lala menurut, tapi di dalam dia tidak bertemu siapa-siapa hanya seekor kodok yang ada di sana.

“Halo, aku Malvian,” kodok itu bersuara. Lala terkejut melihat kodok yang bisa berbicara.

Peri hujan tersenyum. “Jangan takut Lala, dia itu pangeran kodok.”

“Tapi, kenapa dia menjadi katak,” Lala bingung.

Sang katak mulai bercerita tentang kisahnya. Dulu dia adalah pangeran tampan yang sangat suka hujan, dia ingin bermain ketika hujan turun bersama teman-temannya. Tapi, sang ibu melarang karena takut pangeran akan terbawa arus ketika BANJIR datang.

Pangeran marah pada ibunya dan diam-diam Pangeran Malvian bermain hujan. Dia melanggar perintah ibunya, sehingga dia terbawa arus. Lalu bertemu penyihir jahat yang merubah dia menjadi katak.

Lala terdiam. Dia jadi ingat dengan ibunya. Tadi diakan marah pada sang ibu, karena tidak mau mengantarnya ke Negeri Dongeng.

“Peri Hujan, aku mau pulang,” ucap Lala. Tiba-tiba dia merasa rindu pada ibunya dan ingin segera minta maaf.

Peri hujan tersenyum. Begitu juga pangeran kodok.

“Pangeran, aku pulang dulu. Semoga kau cepat sembuh, ya,” ucap Lala dengan telus. Ajaib sekali kodok itu sekarang sudah berubah menjadi seperti semula.

Pangeran berucap terima kasih pada Lala yang memiliki hati yang tulus. Lalu bersama peri hujan, mereka mengantarkan Lala pulang.

****
“Ibu, maafkan, Lala!” teriak Lala. Dia memeluk ibunya erat. Dia merasa bersalah telah membenci ibu dan pergi tanpa izin ibu.

“Ibu, selalu memaafkan kamu, Sayang, maaf kan ibu juga ya, selalu sibuk dan tidak bisa menemani kamu,” sang ibu tersenyum.

Lala mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu. Lala tadi sudah pergi ke Negeri Dongeng kok dengan peri hujan. Aku juga bertemu dengan pangeran kodok,”
“Benarkah?”

Lala mengangguk lagi, diperlihatkannya buku bergambar yang ada gambar peri hujan, dan pangeran kodok yang tersenyum lebar. Digambar pangeran kodok sudah berubah menjadi Pangeran Malvian.

Sang ibu sungguh kaget dibuatnya.

Di sisi lain, nampak peri hujan dan Pangeran Malvin tersenyum melihat Lala yang sudah baikan dengan ibunya. Mereka mengacungkan jempol. Lala tersenyum melihatnya.

--The End--- Srobyong, 29 November 2014

[Cerpen] PACAR RAINE


PACAR RAINE




Raine tertegun beberapa saat, ketika melihat ada seseorang yang sedang main basket. Raine segera melihat jam tangannya. Sudah jam setengah empat. Rasanya tumben banget inikan hari senin, bukankah jadwal latihan basket itu hari selasa?

Raine tidak paham, udahlah terserah! Dia langsung ngeloyor begitu saja ninggalin sekolah yang sudah sepi, dia pengen cepat pulang, kalau saja tadi dia tidak dapat tugas untuk menyelesaikan proposal dari sang ketua OSIS, uch! Boro-boro Raine mau pulang sorean kayak gini.

Ya, ini semua demi tugasnya sebagai seorang sekretaris, jadi nyesal kenapa dulu dia mau menerima jabatan ini. Tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.

“Hoi, tungguin!” teriak seseorang yang membuat langkah Ranie terhenti saking kagetnya. Dia menoleh kearah asal suara.

Wow! Girl! Cakep banget!

Raine benar- benar surprise melihat face dari itu cowok, nggak nguatin, bikin klepek- klepek. Ranie jadi bengong dibuatnya.

“Hai, nama gue Shine,” cowok itu menyadarkan Raine dari kekagetannya.

Dengan agak malu- malu Raine menyambut uluran tangan itu sambil nyebutin namanya.

“Jam segini kok baru cabut?“ tanya Shine.

“ Lu sendiri ngapain main basket sendirian, sampai sore lagi,” balas Raine cuek.

Mereka lalu tergelak bersama. Bukankah nasib mereka sama saja, Uch dasar!

Jadinya , hari itu Raine pulang bareng sama cowok  yang baru dikenalnaya beberapa menit, tapi orangnya lumayan asyik, so Raine jadi tidak bete dibuatnya.

Mereka menelusuri jalan-jalan kecil yang sudah sepi, padahal biasanya, ‘kan banyak banget yang nongkrong. Tapi, untung hari ini tidak ada, kalau ada biasanya selalu godain Raine, dan itu membuat dia risih.

Tidak terasa, ternyata Raine sudah sampai di depan rumah. Wuih! Cepat sekali berjalannya waktu, but cowok itu sepertinya rumah yang dituju masih jauh, jadi sebelum Raine masuk rumah dia mengucapkan terima kasih dulu pada cowok itu.

Cowok itu menanggapinya dengan senyum dan berlalu begitu aja sambil melambaikan tangan pada Raine. Tanpa sadar Raine jadi tesenyum sendiri. Kenapa? Who Knows!

Tiba di rumah Raine langsung rebahan di kasur empuk kesayangannya. Maklum lelah sekali, dia jadi malas melakukan apa-apa, termasuk mandi. Nanti dulu itu yang ada dipikirannya.

Tidak terasa, waktu berlalu dengan cepat, bagaimana tidak , sekarang Raine itu sudah akrab dengan Shine.

Raine jadi suka pulang  agak sore demi menunggu Shine latihan basket, padahal dulu dia selalu ingin cepat-cepat pulang. Tapi, semenjak kedatangan Shine dikehidupan Raine, semua berubah. Kecuali satu sifat cueknya.

 “Sorry, udah lama nunggunya ya!” Shine menghampiri dimana Raine berdiri.

“Nggak juga kok,” jawab Raine tenang.

“Kalau gitu, yuk, ah!” hine langsung menarik tangan Ranie, genggaman tangannya kuat sekali.

Deg!

Jantung Raine langsung kobat kabit, deg-deg-an tidak karuan.

Dalam perjalan pulang, mereka lebih banyak diam, mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing, tidak seperti biasanya yang mengobrol ke sana ke mari tapi nggak jelas yang penting happy.

“Emm …,” Shine sepertinya mau buka mulut.

“Nie!” panggilnya pelan, tapi Raine masih bias menangkapnya.

“Ya, ada apa? “ tanyanya langsung menatap Shine.

Bukan menjawab, Shine malah diam sambil  menatap Raine. Dia jadi salah tinggkah,

“Aku suka kamu,” ucap Shine lancar.

Giliran Raine yang bingung. Dia ditembak? Oleh Shine?

Karena sangat kaget dan merasa bingung, Raine jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

“Mau nggak kamu jadi pacar aku.”

Shine sudah tidak pake gue-elo, tapi aku-kamu.

Gubrakkk!

Shine sungguh to do point.

Raine jadi benar-benar bingung untuk bicara apa, ini pertama kalinya Raine ditembak cowok. Maklumlah, selama ini dia memilih jomblo.

“Gimana kalau gue jawabnya besok,” pinta Raine, dia masih bingung untu menjawabnya, jadi perlu waktu buat berpikir.

Shine hanya mengangguk sambil mengulum senyum yang manis sekali, seperti permen.

Raine menarik nafas lega, akhirnya sampai juga di depan rumah. Rasanya sudah tidak sabar  untuk curhat pada diarynya.

****
Oh My God!

Ternyata tangannya masih digandeng Shine. Raine tidak sadar kalau dari tadi mereka jalan bareng sambil gandengan tangan, kirain sudah dilepasin, jadi malu.

Raine jadi ketawa sendiri pas mengingat kejadian itu, dia langung menutup muknya dengan bantal. Malu plus senang! Campur aduk,  tidak menentu.

Entah sejak kapan ya ada perasaan suka di antara mereka, tidak jelas, semua mengalir bergitu saja.

Sampai saat itu datang. Yup! Shine menembak Raine dan besoknya Raine mengiyakan nya. Senang, akhirnya dua hati manusia telah menyatu.

BRUKKK!

“Aduh sakit!” teriak Raine sambil berusaha berdiri dari tempat di mana dia jatuh.

Olala! Gara-gara masih kepikiran Shine dia jadi jatuh bangun.

Ketika Raine datang, ternyata kelas masih sepi. Tumben, ini dimanfaatkan Raine untuk mencari Shine. Cowok itu bilang dia di kelas XII Ipa. Jadi, Raine segera ke sana, tapi dia tidak menemukan batang hidung Shine.

Mungkin belum datang, akhirnya dia kembali ke kelas tanpa membawa hasil.

“Wah, Raine senyum-senyum sendiri, hayoo lagi ngelamunin siapa?” April mengangetkan Raine.

“Eh, elo Pril. Dasar ngagetin orang aja,” Raine melotot.

“Ya maaf, habis elo senyum-senyum sendiri, ‘kan? Jadi penasaran. Udah gila ya?” ucap April sambil memegang dahi Raine.

Raine langsung menepisnya. Enak saja dibilang gila.

“Siapa yang gila?” Raine berucap.

“Jangan marah dong say, just kidding ok!” tawa April renyah.

Raine tidak begitu merhatikan ucapan sahabatnya, dia malah celingak-celinguk ke sana ke mari. Pasti lagi mencari Shine.

Raine langsung senyum-senyum sendiri, melihat Shien yang melambai padanya.

“Hoi! Lagi lihat siapa sih, bagi dong,”  April ikut celingak-celinguk, tapi kasihan dia tidak sempat  melihat Shine. Lagi pula mereka belum kenal, tidak mungkin tahu.

“Mau tahu aja,” jawab Raine ngegemesin.

“Ya, nggak setia kawan banget sih, lo” protes april.

“Biarin, dari pada elo embat,” jawab Raine cuek dan sekenanya.

“Hah! Apa elo bilang? Jangan-jangan yang tadi elo lihat itu cowok elo ya?, mana- mana beritahu, sumpah gue bukan bukan pagar akan tanaman.”

Rainee malah ketawa ngakak melihat ulah sahabatnya yang berlebihan. April jadi manyun deh. Raine makin tidak kuat menahan tawanya.

“Sejak kapan elo jadian? Sama siapa? Kok nggak pernah cerita sih,”  April merenggek ingin tahu dan bertanya bertubi-tubi.

Raine malah tertawa penuh arti dan bikin April makin penasaran, pasti usilnya udah kumat. Tapi, melihat wajah April yang udah segitunya, Raine jadi tidak tega dan terbukalah semua rahasia yang ada.

Akhir-akhir ini, Raine marerasa ada banyak orang di sekolah yang membicarakannya, sambil memandang yang rada aneh gitu deh.
Semua melihat Ranie dengan tatapan aneh. Bodoh Amat !

Raine tidak peduli, tidak ada gunanya. mungkin mereka iri melihat Reina berpasangan dengan Shine. Ketua tim basket.
****
 “Shine, jadi nggak kita nonton? tanya Raine mengingatkan.

“Sip semua sudah beres,” ucap Shine sambil memperlihatkan dua tiket ditangannya. Raine melonjak kegirangan. Senyum mengembang di wajahnya.

Enak sekali punya cowok seperti Shine, itu menurut pengakuan Raine, katanya Shine itu orangnya care.  Satu sifat yang nggak jauh beda sama persis dengan Raine ya, sama- sama cuek.

Ah!  Malam ini pasti akan  menjadi malam terindah. Raine dan Shine asik berkencan.

Ternyata waktunya singkat banget, padahal baru saja. Ternyata sudah selesai filmnya dan harus segera pulang.

Tapi tiadak apa-apa. Lagian besok masih bisa bertemu. Dan ini juga mau dianterin Shine pulang.

 “See you tomorrow, bye,” ucap Raine ketika  dianterin  Shine untuk masuk k erumah.

“See you, good night and have a nice dream,” gantian Shine yang ngomong.

****
Hari ini bener- benar hari yang teramat bahagia dan menyenangkan  buat Raine.

Dalam tidurnya aja sampai masih terbanyang-bayang terus dengan Shine, tidak peduli itu senyum,  suara ,pokoknya semuanya.

Music mengalun menemani kegembiraan Ranie, musik itu mengalun lancar  sampai si empunya tidur.

 Padahal, ‘kan baru memejamkan mata, tapi sinar mentari pagi sudah unjuk gigi dan menyilaukan mata. Mau nggak mau Raine bangun dan bersiap untuk sekolah.

Keluar dari rumah Raine dikagetkan dengan keberadaan Shine yang sudah di pintu pagar rumahnya.

Raine dan Shine segera berangkat, takutnya terlambat dan mendapat hukuman.

Sampai di sekolah Raine tidak melihat batang hidung April. Dia akhir- akhir ini sering menghilang. Padahal sudah Raine bela belain membawa Shine langsung untuk di kenalkan padanya.

Lama menunggu, April tak juga muncul, akhirnya Raine dan Shine pergi ke taman sekolah yang agak sepi. Siapa tahu April ada di sana.

“Shine nggak ap-apa, ‘kan?  Nemenin gue buat nyari April.”

“Nggak apa-apa tenang aja,” ucap Shine sambil tersenyum.

“Rai! Hai!  elo bicara sama siapa?” tanya April yang tiba- tiba sudah ada di dekat Raine.

“Pril! Ini, Shine, di samping gue, katanya elo mau kenalan?” jelas Raine.

“Mana? Nggak ada seseorang di samping elo Raine, jangan ngigau deh,” April berusaha melihat.

Kenapa? Kenapa April tak melihatnya, jelas-jelas Shine ada di samping Raine. Dia kebingungan.

EPILOG

Raine baru tahu kalau Shine adalah ghost, tidak mungkin, bagaimana bisa?dia tidak menyangka sekali. Dia memang siswa di sini dan di kelas XII Ipa, tapi dia sudah pergi untuk selamanya gara-gara kecelakaan satu tahun yang lalu ketika dia akan mengikuti turnamen basket. Raine yang anak pindahan tentu tidak tahu dengan cerita itu, memang katanya Shine masih sering muncul di sekolah dan berlatih basket sendiri,
Jadi selama ini, Raine jalan dan jadian sama hantu, jikan ingat Raine jadi merinding sendiri, karena ngeri dan tidak habis pikir.



Diedit : Srobyong, 30 November 2014

[Horkom] Kunti Bodoh


HOROR KOMEDI

Judul : Kunti Bodoh
Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Gegara Bayu, Dona penasaran dengan rumah tua yang terletak di sebelah rumah. Katanya di sana banyak hantu berkeliaran. Mumpung katanya malam ini para hantu berkumpul merayakan ulang tahun Ratu Kunti, Dona mau diajak Bayu untuk ke sana.

Mereka janjian di depan rumah tua. Mereka juga sudah menyiapkaan diri meniru gaya para hantu agar di kira temannya.

“Sudah siap semuanya?” tanya Dona pada Bayu.

Bayu mengangguk mereka langsung melesat masuk dan mulai investigasi hantu.

Ternyata rumah itu benar-benar seram banyak hantu yang berkumpul di sana. Pesta ulang tahun Ratu Kunti, sangat meriah. Dia mengundang banyak hantu untuk hadir merayakan ulang tahunnya. Baik hantu lama atau hantu baru.

Dona dan Bayu ikut berdesakan mengikuti irama musik yang diputar di sana. Mereka ternyata gaul juga. Party ulang tahun kuntil anak menggunakan lagu barat Jennife Lopez yang berjudul 'On the Floor'.

Musik menghentak keras. Para hantu macam Pocong, Genderuwo, Tuyul dan lain-lainnya bergoyang mengikuti irama. Pun dengan Ratu Kunti dan Wewegombel mereka menari dengan luesnya.

Dona mendekati Ratu Kunti, mecoba mengobrol dengan Ratu hantu itu.

“Hai, gue Dona, dan itu teman gue Bayu.”

“Kalian sepertinya hantu baru. Aku tidak pernah melihat kalian,” ucap Ratu Kuntil menatap Dona.

“Iya, kami hantu baru, baru juga meninggal kemarin,” jelas Dona bohong.

“Tapi, baumu tidak seperti hantu.”

Ratu Kuntil mengendus layaknya anjing lacak.

“Yaelah, elo ngak percaya gue? Masak iya, manusia bisa masuk ke sini? emang pada berani?” Dona adu argumentasi.

“Manusia itu penakut, lihat kita aja pada lari-lari,” Dona mengompori.

“Benar juga, lo,” Ratu Kunti manggut-mangut. Mereka langsung akrab.

Tapi, sepertinya banyak yang tak percaya dengan Dona dan Bayu. Mereka kini sudah dikelilingi banyak hantu yang ingin melenyapkan mereka.

Dari Bayu, Dona tahu komunitas ini paling tidak suka jika ada manusia yang ikut campur dalam alamnya. Bisa-bisa mereka akan membunuhnya. Serem juga.

“Kenapa ngak bilang dari kemarin? Sekarang gimana?” bisik Dona.

Untung Ratu kunti segera membantu mereka. Dia percaya dengan bualan Dona tadi.

“Kun, mereka ini bukan hantu macam kita. Gue pernah ketemu mereka di rumah sebelah,” ucap Genderuwo.

“Ngak mungkin, Wo. Dia bilang dah mati kemarin. Elo salah lihat kali,” kunti ngak percaya dan terus ngeyel.

“Dibilangin juga. Dia manusia. Kalau dia bisa menipu kita, maka rusak sudah reputasi kita sebagai hantu,” Genderuwo tak kalah ngeyel.

“Sudah, Wo. Percayalah. Gue tahu dia bukan seperti itu. dia ini teman kita,” Kunti masih ngeyel dan membela Dona.

Mereka terus berdebat masalah tentang Dona yang sebenarnya hantu atau tidak.

Kesempatan itu tidak mereka sia-siakan segere mereka kabur ketika gederuwo dan Ratu Kunti sedang eyel-eyelan.

“Dasar Kunti bodoh,” ucapnya cukup keras.

Semua menatap padannya. Tapi terlambat, dia sudah keluar dari rumah tua yang bukan kekuasaan mereka. Dona meleletkan lidah, membuat Ratu Kunti marah.

“Hahha, bodoh.”

--The End---

#Entah lucuc atau tidak, belajar buat komedi#

Titi mangsa : Srobyong, 29 November 2014

[Dongeng] Lucia, Peri Gigi dan Dua Kurcaci

By Kazuhana El Ratna Mida




            Lucia dengan semangat menghabiskan kue hadiah dari ibunya, karena mendapat nilai tertinggi ketika menggambar di sekolah. Gadis kecil itu memang sangat suka dengan segala jenis kue dan makanan manis. Setiap hari, dia selalu meminta ibunya untuk membelikan banyak kue.


             Lucia menghabiskan semua kue hingga tidak bersisa.


            “Ibu kuenya sudah habis,” lapor Lucia pada sang ibu yang sedang asyik membaca buku di sisinya.


            “Besok, ibu belikan lagi, ya,” ucap sang ibu lembut.


            “Asyik!” teriak Lucia senang.


            “Sekarang, Lucia pergi sikat gigi, lalu tidur, ya,” ucap Ibunya.


            “Lucia tidak mau sikat gigi, Bu. Lucia langsung tidur saja, ya,” pinta Lucia.


            Sang ibu menggelang. “Kamu harus sikat gigi, Lucia. Biar gigi kamu sehat. Ayo. Kalau tidak mau sikat gigi, besok ibu tidak mau membelikan kue lagi,”


            Lucia luluh dengan rayuan ibunya, dia akhirnya memilih sikat gigi dan kemudian tidur.


*****


            Betapa Lucia kaget ketika, dia bangun dan berada dengan banyak kue yang begitu enak disekelilingnya. Meski dia tidak tahu di mana sekarang, Lucia sangat senang. Dia berjalan hati-hati mencari tahu apakah ada orang lain di sini.


            “Kamu siapa?” tanya Lucia ketika melihat ada dua kurcaci yang sedang membuat adonan kue.


            “Kami, pemilik rumah ini, gadis kecil,” ucap salah seorang kurcaci yang bernama Logos.


            “Namaku Lucia. Ini di mana?” tanya Lucia lagi.


            “Ini Negeri Awan, Lucia. Negeri kurcaci dan peri, kamu bebas bermain dan menikmati kue yang berada di sini,” kurcaci satunya lagi yang bernama Mola menjelaskan.


            “Jadi aku boleh memakan kue-kui itu?” Lucia menunjuk pada kue yang berjejer di ruangan sebelah.


            “Iya, Lucia. Selamat datang di Negeri Awan,” ucap Mola dan Logos dengan tersenyum.


            Lucia senang sekali. Segera dia memakan kue dengan lahap. Banyak aneka kue yang menarik yang tidak ada di bumi.


            “Ini enak sekali,” Lucia mengambil kue berwarna biru mirip awan yang sangat besar.


            Setelah kenyang, Lucia pergi tidur di kamar yang sudah disiapkan dua kurcaci tadi. Tempat ini sungguh menyenangkan. Tidak hanya Lucia tapi juga banyak anak kecil yang menginap di sini.


            Lucia tersenyum. Di sini tidak ada ibu, jadi dia bisa tidur tanpa harus sikat gigi dulu. Lucia paling malas sikat gigi jika tidak di paksa ibunya. Kalau sikat gigi rasa kue yang tadi di makan bisa hilang dan  dengan busa yang muncul di mulut.


            ****


            Esok harinya ketika bangun. Lucia menangis keras. Dia merasa giginya sakit sekali. Dia memegang kedua pipinya menahan sakit. Dia jadi tidak tertarik untuk makan kue meski sebenarnya dia ingin.


            “Ibu, gigiku, sakit,” ucap Lucia dengan menangis. Lucia bingung bagaimana dia harus kembali dan meminta tolong pada ibunya.


            “Kamu kenapa, adik manis?” tanya  seorang peri yang tiba-tiba mucul di depan Lucia.


           “Gigiku, sakit sekali. Kamu  siapa?” tanya Lucia karena merasa tidak pernah melihat wanita cantik di depannya.


            “Aku Peri gigi. Namamu siapa gadi manis?” tanyanya dengan tersenyum.


            “Aku Lucia, Ibu Peri. Gigiku sakit. Kamu bisa membantuku?” Lucia masih menangis.


            “Mendekatlah padaku!” perintah Peri Gigi.


            Lucia berjalan mendekati peri gigi, masih dengan memegang ke dua pipinya. Peri gigi meminta Lucia untuk membuka mulutnya. Lalu sang peri membersihakan gigi Lucia yang berlubang, yang menimbulkan sakit.


            Lucia menangis kencang, namun kemudian dia sadar rasa sakitnya telah hilang.


            “Terima kasih, Peri Gigi. Gigiku sudah sembuh. Aku bisa makan kue lagi,” ucap Lucia senang.


            “Sama-sama Lucia. Tapi setelah makan kue jangan lupa sikat gigi, ya? Biar gigi kamu sehat tidak mudah di serang kuman,” ucap peri gigi.


          “Kamu tahu, makanan manis itu bisa membuat gigi berlubang, jika tidak dirawat dengan  baik bisa sakit gigi. Dan kalau sudah parah gigimu bisa dicabut,”peri gigi menjelaskan.


            Lucia mengangguk. Dia jadi teringat pesan ibunya untuk selalu sikat gigi setelah makan-makanan manis dan sebelum tidur.


            Dia sadar telah salah karena telah melupakan nasihat ibunya. Jadi giginya sakit, tadi.


            *****


            “Lucia, Sayang. Bangun yuk. Sudah jam enam, nanti ke sekolah,’kan?”


            Lucia membuka mata melihat ibunya yang duduk di sisi kasurnya. Lucia langsung memeluk ibunya.


            “Ibu, maafin Lucia, ya. Selama ini malas sikat gigi. Suka kabur dan marah jika di paksa,” Lucia merasa bersalah.


“Lucia, janji mulai sekarang akan rajin sikat gigi,” Lucia tersenyum.



            Ibunya bingung mendengar ucapan Lucia yang tiba-tiba. Tapi ibu Lucia tetap mendengarkan semua ucapan Lucia.


 Lalu Lucia bercerita tentang Negeri Awan yang penuh kue. Dia makan dengan senang. Dan bertemu dua kurcaci logos dan Mola. Juga bertemu peri gigi yang baik hati.


            “Putri ibu, mimpi indah, ya.”

Lucia bingung apakah ini memang sungguh benar mimpi? tapi kenapa dia menemukan ada bekas sayap peri gigi yang jatuh di kasurnya.



           Lucia ingat, dia merogoh saku baju tidurnya. Oleh-oleh dari peri kecil dan dua kurcaci masih di simpannya. kalau kue itu ada berarti bukan mimpi.

"kenapa diam, Sayang. Ayo, mandi,"

“Ini bukan mimpi, Bu,” Lucia menunjukkan Kue kecil yang memiliki banyak warna, pada ibunya.

"Semoga, lain kali dia bisa ke sana," harapan Lucia sebelum berangkat ke sekolah.



            ---The End---

Srobyong, 28 November 2014.

PENGUMUMAN PEMENANG EVENT PUISI “JODOH PASTI BERTEMU”


Iyahh, setelah perjuangan ditengah listrik yang membuat galau bin setres,kini tiba saatnya kami mengumumkan pemenang yang akan mendapatkan hadiah berupabuku dari kami.
Susah sebenernya menentukan karena puisinya semua bagus-bagus. Semua pesertaadalah pemenang karena masih ada peserta yang mau ikutan tapi event udah tutup(ini kok ngalor ngidul ya). Selamat kepada kalian semua, dan inilah puisi terbaik:

Terbaik 1 mendapat 3 buah buku dari kami
Nastain Achmad - Makrifat Mantra

Terbaik 2 mendapat 2 buah buku
Yose Rizal – Cerita Kita

Terbaik 3 mendapat 1 buah buku
Kazuhana El Ratna Mida – CintaKan  Berpulang

Terbaik 4 mendapat 1 buah buku
 Nophee- Harapku

Terbaik 5 mendapat hadiah pulsa senilai Rp 10.000,-
5.1  Jayanti Ayu Lestari – Indah Pada Waktunya
5.2  Sindi Violinda - Gamang 

Selamat yah kepada semuanya. Tolong inbox kami dengan memberikan alamat dannomor hp.
Mohon maaf atas segala kekurangan kami juga kesalahan mungkin terjadi.
Terimakasih semuanya, salam karya.



Tim Rasselea Publisher

berkah bulan Desember yang harus aku syukuri. semoga kedepannya bisal lebih baikl lagi. aamiin 

buku juga sudah bisa di order